SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT YUNANI KUNO

KATA PENGANTAR

 

Dengan pui syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang maha esa, atas segala karunia dan rahmat yang telah dilimpahkannya, sehingga kami kelompok III mahasiswa STAI Darusalam dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “Sejarah Perkembangan Filsafat Yunani Kuno” ini.

Makalah ini dibuat untuk menambah wawasan kami maupun pembaca terhadap perkembangan Filsafat pada masa Yunani kuno .

Makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan dari berbagai pihak. Ole karena itu, dalam kesempatan ini kami penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

  1. Bapak Hamlan S, Ag, selaku dosen pembimbing dan pengajar Filsafat umum
  2. Teman-teman yang telah memerikan motivasi berupa tenaga maupun pikiran.
  3. Semua pihak yang telah membantu serta memberikan saran dan arahan untuk semua kelancaran penulisan makalah ini.

semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan imbalan atas segala amal yang telah diberikan.

Penulis menyadari dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Akhirnya, semoga makalah ini dapat memberikan hasil dan manfaat bagi penulis maupun pihak yang memerlukan dan semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa mencurahkan dan melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita. Amien.

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Filsafat umum sangat banyak sejarahnya, diantaranya adalah filsafat yunani kuno, filsafat islam, filsafat modern, filsafat abad ke-19 dan 20, aliran-aliran filsafat dan sebagainya.

Tetapi ada jenis filsafat umum yang dipelopori oleh Socrates, plato, dan Aristoteles yang mana mereka bangkit pada masa Yunani klasik, zaman klasik berawal dari ajaran Socrates, system sjaran filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles.

Berdasarkan uraian di atas Socrates, Plato, Aristoteles adalah para filosuf klasik yang muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya tanggung jawab manusia karena pengaruh negative dari para filosuf aliran Sofisme. Kehadiran filosuf yunani klasik sama dengan kehadiran raksasa yang mengguncang bumi. Semua itu dapat menjadi sumber bagi penulis, agar karya yamg ditulis menjadi lebih baik dan dapt terbantu dengan adanya karya tulis ini.

1.2. Masalah

Dalam masalah Bab aliran filsafat Sofisme, Socrates, Plato, dam Aristoteles, kami selaku penulis makalah ini akan membatasi permasalahan pada hal berikut:

1. Bagaimana cara membuat pembaca tertarik untuk membaca makalah ini?

2. Apakah kendala-kendala yang akan dihadapi oleh penulis?

3. Bagaimana cara-cara mengatasi kendala tersebut?

1.3. Tujuan

Sesuai dengan uraian singkat di atas, karya tulis ini atau makalah ini dibuat dengan tujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan kepada pembaca maupun penulis, sekaligusuntuk memenuhi permintaan dosen kami Bapak Hamlan S, Ag sebagai tugas pada semester pertama ini semoga sesuai dengan harapan beliau. Amin yaa Rabbal ‘Alamin.

BAB II

PEMBAHASAN

YUNANI KLASIK

A. SOFISME

Sofis adalah nama yang diberikan kepada sekelompok filosuf yang hidup dan berkarya pada zaman yang sama dengan Socrates. Mereka muncul pada pertengahan hingga akhir abad ke-5 SM. Meskipun sezaman, kaum sofis dipandang sebagai penutup era filsafat pra-sokratik sebab Sokrates akan membawa perubahan besar di dalam filsafat Yunani. Golongan sofis bukanlah suatu mazhab tersendiri, sebab para filsuf yang digolongkan sebagai sofis tidak memiliki ajaran bersama ataupun organisasi tertentu. Karena itu, sofisme dipandang sebagai suatu gerakan dalam bidang intelektual di Yunani saat itu yang disebabkan oleh beberapa faktor yang timbul saat itu. Gorgias, salah seorang filsuf sofis pertama

1. Kemunculan Kaum Sofis

Kaum Sofis muncul pada pertengahan abad ke-5 SM. Beberapa orang filsuf sofis yang terkenal tidak berasal dari Athena, namun semuanya pernah mengunjungi dan berkarya di Athena.
Berikut adalah beberapa faktor yang menyebabkan munculnya kaum sofis.

A. Perkembangan Athena

Setelah perang dengan Persia usai pada tahun 449 SM, Athena berkembang pesat di dalam bidang politik dan ekonomi.
Perikles adalah tokoh yang berhasil memimpin Athena saat itu hingga Athena berhasil menjadi pusat seluruh Yunani.
Sebelumnya, filsafat dan ilmu pengetahuan lain kurang berkembang di Athena, melainkan di tempat-tempat lain.
Namun setelah Athena menjadi pusat politik dan ekonomi Yunani, dengan segera Athena juga menjadi pusat dalam bidang intelektual dan kultural.

B. Kebutuhan akan Pendidikan

Bersamaan dengan meningkatnya kemakmuran warga Athena, maka dirasakan juga kebutuhan di dalam bidang pendidikan. Pendidikan yang utama pada waktu itu adalah pendidikan yang memampukan seseorang untuk berbicara dengan baik dan meyakinkan di depan umum.
Hal itu berkaitan dengan kemajuan di bidang politik, yakni dengan sistem demokrasi diterapkan di Athena. Sistem demokrasi Athena menggunakan pemungutan suara terbanyak di dalam pengadilan maupun sidang umum.
Oleh karena itu, para pemuda yang merupakan calon-calon pemimpin harus dilatih untuk dapat berbicara dengan meyakinkan supaya dapat ikut serta dalam kehidupan politik.
Di sinilah kaum sofis memenuhi kebutuhan akan pendidikan tersebut. Kaum sofis mengajarkan ilmu-ilmu seperti matematika, astronomi, dan tata bahasa, di samping ilmu
retorika yang merupakan ilmu terutama. Selain memiliki murid-murid yang berasal dari kalangan atas, para sofis juga memberi ceramah-ceramah untuk rakyat.

C. Perjumpaan dengan Berbagai Kebudayaan

Kemajuan Athena juga mendorong perjumpaan dengan orang-orang dari berbagai bangsa yang memiliki adat istiadat, hukum, ilmu pengetahuan, dan filsafat yang berbeda.
Hal itu menimbulkan pertanyaan-pertanyaan mengenai etika, tradisi-tradisi, bahkan kepercayaan religius.
Kaum sofis banyak berbicara apakah peraturan-peraturan yang ada berdasarkan kesepakatan sosial atau adat kebiasaan saja (nomos) ataukah berdasarkan pada kodrat manusia (physis).
Pada umumnya, kaum sofis menyatakan bahwa kehidupan sosial tidak memiliki dasar kodrat manusia, dan merupakan kesepakatan manusiawi saja.

2. Para Filosuf Sofis

Di dalam sejarah filsafat, dikenal beberapa nama filosuf yang termasuk di dalam kaum sofis. Nama-nama tersebut adalah Protagoras dari Abdera, Xeniades dari Korintus, Gorgias dari Leontinoi, Lycophron, Prodikos dari Keos, Thrasymakos dari Chalcedon, Hippias dari Elis, dan Antiphon and Kritias dari Athena.
Dari beberapa nama filsuf tersebut, hanya Protagoras, Gorgias, Prodikos, Hippias, dan Antiphon, yang fragmen-fragmen tulisannya masih tersimpan sehingga pengajarannya dapat diketahui.
Hanya ada sedikit sekali tulisan yang berbicara mengenai Thrasymakos dan Kritias.
Sedangkan untuk Lycophron dan Xeniades, sama sekali tidak ada fragmen tulisan mereka yang tersimpan.

Dibawah ini dua orang filosuf kaum Sofis yang kami terangkan sedikit:

A. Protagoras

Protagoras adalah seorang filsuf yang termasuk golongan sofis.
Ia termasuk salah seorang sofis pertama dan juga yang paling terkenal. Selain sebagai filsuf, ia juga dikenal sebagai orator dan pendebat ulung. Ditambah lagi, ia terkenal sebagai guru yang mengajar banyak pemuda pada zamannya.

C. Gorgias

Ia lahir di Leontinoi, Sicilia. Namanya menjadi terkenal karena ajarannya dalam bidang retorika atau seni berpidato, dan ia memang sangat pandai berdebat.

Gorgias adalah seorang filsuf yang termasuk sebagai kaum sofis. Di antara kaum Sofis, hanya Protagoras yang lebih terkenal darinya. Selain sebagai filsuf, ia terkenal di bidang retorika.
Seperti kaum sofis lainnya, ia juga mengajar dan mengumpulkan murid-murid.

Gorgias menulis sebuah buku berjudul “Tentang yang Tidak Ada atau Tentang Alam” (On Not Being or On Nature).
Selain itu, ia juga menulis beberapa buku tentang retorika, yang mana hanya beberapa fragmen yang masih tersimpan.
Dua karya yang diketahui ditulis oleh Gorgias adalah Encomium of Hellen dan Defence of Palamedes.

Pemikirannya yang penting adalah:

a. mencari keterangan tentang asal usul yang ada

b. bagaimana peran manusia sebagai makhluk yang mempunyai kehendak berpikir karena dengan kehendak berpikir itulah manusia mempunyai pengetahuan yang nantinya akan menentukan sikap hidupnya

c. norma yang sifatnya umum tidak ada, yang ada norma yang individualistis (subjektivisme)

d. bahwa kebenaran tidak dapat diketahui sehingga ia termasuk skeptisisme.

 

3. Pengaruh

Di dalam sejarah filsafat, kaum sofis sering dipandang secara negatif.
Misalnya saja, mengajar untuk mendapatkan uang yang banyak, menghalalkan segala cara untuk memenangkan argumentasi, serta mengajarkan relativisme.
Salah satu faktor yang menyebabkan hal itu adalah adanya pernyataan dari Sokrates, Plato, dan Aristoteles terhadap kaum sofis.
Akan tetapi, kini telah ada usaha-usaha untuk menilai kaum sofis secara positif.
Berikut adalah beberapa sumbangan kaum sofis terhadap perkembangan filsafat:

  1. Kaum sofis menjadikan manusia sebagai pusat pemikiran filsafatnya . Tidak hanya itu, bahkan pemikiran manusia itu sendiri dijadikan tema filsafat mereka.
    Contohnya adalah pandangan Prodikos tentang dewa-dewi sebagai proyeksi pemikiran manusia, atau pandangan Protagoras tentang proses pemikiran untuk mengenali sesuatu.
  2. Kaum sofis merupakan pionir dalam hal pentingnya bahasa di dalam filsafat.
    Hal itu terlihat dari berkembangnya retorika dan juga pentingnya pemakaian kata yang tepat. Selain itu, kaum sofis juga menciptakan gaya bahasa baru untuk prosa Yunani.
    Sejarawan-sejarawan Yunani yang besar seperti Herodotus dan Thukydides, amat dipengaruhi oleh mereka.
    Kemudian etika kaum sofis juga mempengaruhi dramawan-dramawan tersohor seperti Sophokles dan Euripides.
  3. Kritik kaum sofis terhadap pandangan tradisional mengenai moral membuka cakrawala pemikiran baru terhadap etika rasional dan otonom.
  4. Kaum sofis memberikan pengaruh besar terhadap pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles.
    Karena itu, secara tidak langsung, kaum sofis memberikan sumbangan besar terhadap filsafat zaman klasik dengan tiga filsuf utama tersebut.

 

B. SOKRATES DAN IDEALISMENYA

Kira-kira selama dua ribu tahun, para filosuf membangun fondasi falsafahnya sehingga mengguncang filsafat dunia barat. Para filosuf klasik muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya tanggung jawab manusia karena pengaruh negatif dari para filosufaliran sofisme. Kehadiran filosuf yunani klasik sama dengan kehadiran raksasa yang mengguncang bumi. Berbagai pandangan para filosuf yunani merupakan motifasi kuat untuk bangkit kembali ilmu pengeatahuan yang telah semakin melemah dan dangkal oleh pengaruh filsafat kaum sofis yang merelativitaskan segala sesuatu.

Socrates, plato, dan Aritoteles adalah para filosuf yang bangkit pada masa Yunani klasik. Zaman klasik berawal dari Socrates, tetapi Socrates belum sampai pada suatu system filosofi, yang memberikan nama klasik kepada filosofi itu. Ia baru membuka jalan. Ia baru mencari kebenaran. Ia belum sampai menegakkan suatu system panadangan. Tujuannya terbatas hinnga mencari dasar yang baru dan kuat bagi kebenaran dan moral.

Sistem ajaran filsafat klasik baru dibangun oleh Plato dan Aristoteles, berdasarkan ajaran Socrates tentang pengetahuan dan etik besrta filosofi alam yang berkembang sebelum Socrates.

Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM. Bapaknya adalah tukang pembuat patung, sedangkan ibunya seorang bidan. Pada permulaannya, Socrates mau menuruti jejak bapaknya menjadi tukang pembuat tukang patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung, ia membentuk watak manusia.

Masa hidupnya hampir sejalan dengan perkembangan sofisme di Athena. Pada hari tuanya, Socrates melihat kota tumpah darahnya mulai mundur, setelah mencappai puncak kebesaran yang gilang-gemilang.

Socrates terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur, dan adil. Cara penyampaian pemikirannya kepada para pemuda menngunakan metode Tanya jawab. Oleh sebab itu, ia memperoleh banyak simpati dari para pemuda di negerinya. Namun, ia juga kurang disenangi oleh orang banyak dengan menuduhnya sebagai orang yang merusak moral para pemuda dinegerinya. Selain itu, ia juga dituduh menolak dewa-dewa atau Tuhan-tuhan yang telah diakui Negara.

Sebagai kelanjutan atas tuduhaan terhadap dirinya, ia di adili oleh pengadilan Athena. Dalam proses pengadilan, ia mengatakan pembelaannya yang kemudian ditulis oleh Plato dalam naskahnya yang berjudul Apologi. Plato mengisahkan adanya tuduhan itu. Socrates dituduh btidak hanya menentang agama yang diakui oleh Negara, juga mengajarkan agama baru buatannya sendiri. Salah seorang yang mendakwanya, yaitu Melethus, mengatakn bahwa Socrates adalah seorang yang tak bertuhan, dan menambahkan bahwa Socrates berkata bahwa matahari adalah batu dan bulan adalah tanah. Socrates menangkal tuduhan itu, dan menanyakan kepadany, siapakah orang yang mempebaiki pemuda? Melethus menjawab mula-mula para hakim, lalu semua orang, kecuali Socrates. Kemudian Socrates mengucapkan selamat bahwa Athena memiliki nasib baik untuk memiliki begitu banyak orang yang berusaha memperbaiki pemuda, dan orang-orang baik tentu lebih pantas untuk digauli daripada orang jelek. Oleh karena itu, tidak akan menjadi begitu bodoh untuk merusak mereka dengan sengaja, Melethus seharusnya mengajar dia dan tidak menyeretnya ke pengadilan. (Ahmad Sydali dan Mudzakkir, 2004 :66-67 ).

Lebih lanjut, Plato mengisahkan pembelaan Socrates yang mempunyai nada agama,. Ia pernah menjadi tentara, dan tetap, dan tetap pada pos ini selama ia diperintahkan untuk tak meninggalkannya. Kini, Tuhan menyuruh saya untuk menaikkan tugas amanat filosof untuk mengenal diri saya dan oranglain, dan tentu sangat memalukan jika kau meninggalkan pos nini sekarang seperti halnya pula pada waktu peperangan dan pertempuran. Lebih baik mati daripada takut matiyang akhirnya mati juga. Kalau dia diminta untuk berhenti merenung dan mengadakan penyelidikan agar dia selamat dari maut, ia tentu menjawab, “Wahai warga Athena, aku menghormati dan mencintai kamu, tetapi aku akan lebih tunduk kepada tuhan daripada kamu, dan selama hayat dikandung badan dan aku memiliki kekuatan, aku tak akan berhenti mengerjakan dan mengajarkan filsafat, menganjurkan setiap orang yang aku kutemui…. Karena ketahuilah bahwa ini adalah perintah tuhan; dan aku percaya bahwa tak ada kebaikan lebih besar bagi Negara daripada pengabdianku kepada tuhan.” (Ahmad Syadali dan Mudzakkir, 2004 :66-67 ).

Dalam proses pengadilan diputuskan bahwa Socrates dinyatakan bersalah dengan suara 200 melawan 220, ia dituntut hukuman mati.

Adapun filsafah pemikiran Socrates, diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita, dalam membenarkan kebenaran yang objektif, ia menggunakan metode tertentu yang terkenal dengan metode dialektika. Dialektika berasal dari kata Yunani yang berarti bercakap-cakap atau dialog.

Menurut Socrates, ada kebenarn objektif, yang tidak bergabtung kepada aku atau kita. Untuk membuktikan adanya kebenara objektif, Socrates menggunakan metode tertentu. Metode itu bersifat praktis dan dijalankan melalui percakapan-percakapan. Ia menganalisis pendapat-pendapat. Setiap orang mempunyai pendapat mengenai salah dan benar. Ia bertanya kepada negarawan, hakim, tukang, pedagang, dan sebagainya. Menurut Xenophon, ia bertanya tentang benar-salah, adil-zalim, berani-pengecut, dan lain-lain kepada siapapun yang menurutnya patut ditanya. Socrates selalu menganggap jawaban pertama sebagai hipotesis, dan dengan jawaban yang lebih lanjut, menarik konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban tersebut. Jika tenyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, hipotesis itu diganti dengan hipotesis lain, lalu hipotesis kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan begitu seterusnya. Sering terjadi, percakapan itu berkhir dengan kebingungan. Akan tetapi, tidak jarang, dialog itu menghasilkan suatu definisi yang dianggap berguna. (Ahmad Syadali dan Mudzakkir, 2004 : 66-67 ).

Dari metode dialektikanya, ia menemukan dua penemuan metode yang lain, yaitu induksi dan definisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran betolak dari pengetahuan yang khusus, lalu ia menyimpulkannya dengan pengertian umum. Pengertian umu diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari masing-masing kasus khusus dan cirri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama disisihkan. Ciri umum tersebut dinamakan cirri esensi dan semua cirri khusus itu dinamakan cirri cirri eksistensi. Suatu definisi dibuat dengan menyebutkan semua cirri esensi suatu objek dengan menyisihkan semua cirri eksestensinya. Demikianlah jalan untukmemperoleh definisi tentang suatu persoalan. (Ahmad Syadali dan Mudzakkir, 2004 : 66-67 ).

Sebagaimana disebutkan bahwa filsafat klasik ini merupakan reaksi dari melemahnya pandangan manusia terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan agama karena pengaruh filsafat aliran Sofisme yang didominasi paham relativisme. Dengan mengajukan penemuan baru ini, Socrates dapat menangkalnya sehingga mampu membangkitkan dan mengajak orang-orang Athena kembali memegang kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, sains, dan agama.

Socrates dikenal sebagai orang yang berbudi luhur, arif dan bijaksana. Namun, ia tak pernah mengaku mempunyai mempunyai kearifan dan kebijaksanan. Ia hanya mengaku sebagai penggemar kearifan atau amateur kebijaksanaan, bukan professional dan mengambil untuk kebendaan dari apa yang ia gemari seperti kaum Sofis pada zamannya.

Konon dewa yang berada di tempat peribadatan bagu orang yunani di Delphi menyatakan dengan cara luar biasa bahwa ia adalah orang yang paling arif di negeri Yunani. Ia menafsirkan bisikan dewa itu sebagai persetujuan atas cara agnosticism yang menjadi titik-tolak dari filsafahnya; “One thing only I know, and that is know nothing”. Memang, filsafat bermula jika seseorang belajar bagaimana meninjau kembali kepercayaan yang telah sejak kecil dianut, meninjau kembali keyakinan dan meragukan aksioma pengetahua.

Bagaimana kepercayaan-kepercayaaan menjadi keyakinan, apa tidak ada tujuan tertentu dan maksud rahasia di belakang yang menyebabkan kelahirannya, dan menaruhnya dalambaju yang merahasiakan haklikat sebenarnya? Tidak ada filsafat yang sebenarnya sebelum pikiran menengok dan menyelidiki lebih mendalam. Berfilsafat yang terbaik adalah melakukan kajian filosofis atas filsafat itu sendiri.

Paham etika Socrates merupakan kelanjutan dari metode yang ia temukan (induksi dan definisi). Sayangnya, Socrates tidak pernah menulis pemikiran filsafahnya sendiri. Untuk mengetahuinya, kita dapat memperolehnya dari tulisan murid-muridnya. (Ahmad Syadali dan Mudzakkir, 2004 : 66-67 ).

Socrates bergaul dengan semua orang, tua, muda, kaya, dan miskin. Ia seorang filosuf dengan corak sendiri. Ajaran filosofinya tak pernah dituliskannya, melainkan dilakukannya dengan perbuatan, dengan cara hidup. Sahabat-sahabatnya mengatakan bahwa Socrates adalah orang yang sangat adil, ia tak pernah berlaku zalim.ia pandai menguasai dirinya, sehingga ia tak pernah memuaskanhawa nafsunya denagn merugikan kepentingan umum. Socrates seorang yang cerdas dan bermoral. Ia senantiasa memiirkan perbedaan baik dan buruk, sehingga kehidupan manusia lebih tejamin dari ketentraman dan kedamaian.

Tabiat Socrates tercermin dalam pernyataannya sebagai berikut, “Padang rumput dan pohon kayu tak member pelajaran apapun kepadaku, manusi ada”. Ia memperhatikan yang baik dan yang buruk, yang terpuji dan tercela, suatu saat ia didapati di tanah lapang di mana banyak orang berkumpul tidak lama ia berada di pasar. Ia berbicara dengan semua orang, menanyakan apa ynag dibuatnya. Ia ingin mengetahui sesuatu dari orang yang mengerjakan sesuatu. Ia selalu bertanya, sungguh-sungguh bertanya, karena ia ingin tahu. Ia bercakap dengan seorang tukang, bertanya tentang pertukangannya. Ia bertanya kepada pelukis tentang apa yang dikaatakan indah. Kepada prajurit atau ahli perang, ia tanyakan, apa yang dikataakn berani. Kepada ahli politik, ditanyakannya berbagai hal yang biasa dipersoalkan mereka. Dengan jalan bertanya itu, ia memaksa orang yang ia tanyakan supaya memerhatikan apa yang ia tahu dan hingga di sisi mana tahunya. Pertanyaan itu mulanya mudah dan sederhana. Setiap jawaban disusul dengan pertanyaan baru yang lebih mendalam. Dari pertanyaan biasa, ia lalu membawanya kepada pertanyaan lebih lanjut. Akhirnya orang yang menganggap tahu tadi dihadadapkannya pada tanggung jawab tentang pengetahuannya. Tidak jarang terjadi bahwa dia yang mulanya membanggakan pengetahuannya, mengaku tidak tahu lagi. Lalu Socrates, yang mengaku tak tahu, merasa bahwa ia lebih banyak tahu dari mereka yang menganggap dirinya mengetahui.

Tujuan Socrates ialah mengajar orang orang mencari kebenaran. Sikap itu merupakan suatu reaksi terhadap ajaran Sofisme yang merajalela pada waktu itu. Karena guru-guru Sofis mengajarkan bahwa kebenaran yang sebenar-benarnya tidak tercapai. Oleh sebab itu tiap-tiap pendirian dapat “dibenarkan” dengan jalan retorika. Dengan daya kata dicoba memperoleh persetujuan orang banyak. Apabila orang banyak sudah setuju, itu dianggap sudah benar. Dengan cara begitu, pengetahuan menjadi dangkal.

Tehadap aliran yang mendangkalkan pengetahuan dan melemahkan rasa tanggung jawab itu, semangat Socrates memberontak,. Dengan filosofi yang diamalkannya dan dengan cara hidupnya, ia mencoba memperbaiki masyarakat yang rusak. Orang diajak memperhitungkan tanggung jawabnya. Ia selalu berkata, “Yang ia ketahui Cuma satu, yaitu bahwa ia tak tahu, sebab itu ia bertanya. Tanya jawab adalah jalan baginyauntuk memperoleh pengetahuan”. Itulah permulaan dialektikanya. Dialektika asal katanya “dialog”, artinya bersoal jawab antara dua orang.

Guru-guru sofis yang mengobarkan “ilmu” di tengah-tengah pasar ditantangnya dengan cara berguru. Ia yang tidak mengetahui itu ingin tahu dan bertanya. Tiap jawaban atas pertanyaannya disusun dengan pertanyaan baru. Demikianlah seterusnya. Pertanyaannya itu beruntun sehingga kaum sofis terdesak dan menyerah. Akhirnya guru Sofis tak sanggup lagi menjawab dan mengakui kekalahan perdebatannya dengan Socrates, atau mereka mengakui tidak ketidaktahuannya. Lalu, Socrates mengunci Tanya-jawab tersebut dengan berkata, “Demikianlah adanya, kita sama-sama tidak tahu”.

Permulaan perdebatannya ditonton oleh banyak orang. Para penonton mulanya berpihak pada kaum Sofis. Ketika perdebataan semakin memanas, dan kaum sofis mulai kewalahan menjawab serbuan pertanyaan Socrates yang beruntun, hingga akhirnya kaum Sofis tidak berkutik, para pendengarpun berterriakan menertawakan kaum Sofis dan Socrates semakin dielu-elukan. Akan tetapi, lagi-lagi Socrates berkata bahawa pada dasarnya kita tidak tahu, mak perlu bertanya, dan kembali tidak tahu, lalu ia bertanya lagi, sehingga jawaban-jawaban pertanyaan merupakan ilmu pengetahuan yang mendalam, yang semakin mendekatkan diri pada hakikat yang sebenar-benarnya.

Dengan cara berani dan jujur itu, Socrates banyak memperoleh kawan. Para pemuda Athena sangat menyukainya. Akan tetapi, sebaliknya musuhnya juga banyak, terutama dari pihak guru Sofis serta pengikutnya yang berpolitik, yang memperoleh kemenangan dengan jalan retorika. Akhirnya, Socrates diajukan ke muka pengadilan rakyat dengan dua macam tuduhan. Tuduhan pertama bahwa ia meniadakn dewa-dewa baru. Tuduhan kedua bahwa ia menyesatkan dan merusak kreativitas kaum muda.

Dalm pembelaannya, Socrates tegas dengan sikapnya. Dengan memerhatikan susunan mahkamh rakyat itu, sudah tentu ia akan disalahkan dan dihukum. Namun, pantang baginya menjilat, beriba-iba mengambil hati para hakim supaya hukumannya diringankan. Dengan cerdas, ia mengatakan bahwa ia tidak bersalah, melainkan berjasa pada para pemuda dan masyarakat Athena. Bukan hukuman, melainkan upahan yang harus diterimanya. Socrates berkata, seharusnya Negara prytaneon, yaitu balai kota pad masa itu, yang member makan seumur hidupnya, karena diatelah membangkitkan para pemuda untuk mempertanyaakan segala sesuatu, karena pada hakikatnya semua kita tidak tahu.

Majelis hakim sangat tersinggung dengan perkataan socrates, hingga diputuskan untuk menghukum mati dengan caara meminum racun. Socrates tidak bergeming dengan sanksi hukum tersebut, dan ia mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat tragis, yaitu meminum racun. Mulutnya masih mengeluarkan filsafat tentang keberakhiran ajal, tubuhnya mengejang sambil mengingat sisa utang kepada temannya, matanya menatap keindahan kebenaran,dan falsafah hidupnya tetap “tidak tahu”, maka bertanyalah.

Dengan hati yang tegar, ia menolak segala bujukan kawan-kawannya untuk lari dari penjara dan menyingkir ke kota lain, ke Megara. Socrates, yang selalu patuh kepada undang-undang, tidak mau durhaka pad saat ia meninggal. Cara matinya juga memberi contoh, betapa seorang filosufsetia kepada ajarannya. Socrates pulang ke alam baka, tetapi namanya hidup untuk selama-lamanya.

Plato dalam Phaidon menggambarkan saat-saat Socrates meninggal dunia,

“Engkau semuanya hendaklah sabar dan ingatlah bahwa hanya badanku yang akan engkau tanam. Setelah mangucapkan kata ini, berdirilah ia dan pergi ke kamar mandi dengan Crito, yang meminta kami menunggu. Kami pun menunggu sambil bercakap-cakap dan memikirkan kesedihan besaryang menimpa hati kami. Kami seolah-olah kehilangan bapak dan seumur hidup sebagai anak piatu. Pada saat itu, matahari hampir tenggelam, karena Socrates lama sekali perginya. Setelah ia kembali, duduklah ia bersama kami, tetapi percakapan tak banyak,. Tidak lam setelah itu, datanglah sipir sambil berkata, “Aduhai, Socrates, aku tahu engkaulah yang termulia dan yang terbaik hatinya dari semua orang yang pernah dating kemari; aku tak mau menuduh engkau mempunyai persaan benci kepadaku seperti orang-orang yang lain itu, yang berteriak-teriak dan menyumpahi aku, apabila aku, dalam menjalankan perintah atasan, meminta mereka meminum racun. Sesungguhnya aku percaya engkau tak marah kepada aku, sebab seperti kau tahu orang lain, bukan aku yang bersalah. Selamat jalan, hadapilah yang tak dapat dielakkan ini dengan hati yang tenang. Inilah pesanku.” Sambil menangis tersedu-sedu ia berbalik dan pergi.

Socrates melihat kepadanya dan berkata, “Engkau juga, selamat tinggal. Akan kukerjakan apa yang kau pinta.” Sambil menoleh kepada kami, ia berkata, “Alangkah baiknya orang itu. Selam sku dalam penjara, selalu iadatang kepadaku dan lihatlah betapa ia menangisi aku. Akan tetapi, kita sekarang harus berbuat seperti yang dikatakannya, Crito, bawalah kemari gelas yang berisi racun kalau sudah dibuat. Jika belum, suruhlah pelayan membuatnya. “Socrates, kata Crito-mataharimasih diatas puncak bukit, banyaklah sudah orang yang meminum isi gelas racun sampai habis. Sesudah pemberitahuan itu, ia masih makan dan minum dan memuaskan segala hawa nafsunya. Enkau tak perlu terburu-buru, masih ada waktu.”

Socrates menjawab, “Ya, Crito, orang-orang yang engkau sebut itu benar kalau mereka berbuat begitu, sebab mereka mengira bahwa mereka beruntung dengan menangguhkan. Akan tetapi, benar juga kalau aku tidak berbuat begitu, sebab sepanjang pikiranku, aku tidak beruntung sedikitpun apbila aku tangguhkan meminum racun itu. Aku hanya akanmenyimpan dan menahan hidup yang sudah hilang. Dengan itu, aku hanya akan mencemoohkan diriku sendiri. Buatlah seperti kukatakan dan jangan menampik.”

Mendengar itu, Crito memberi isyarat kepada pelayan penjara itu. Dia pergi beberapa waktu lamanya dan kembali lagi bersama-sama dengan seorang lagi yang membawa sebuah gelas minum berisi racun. Socrates berkata, “Hai sahabatku, engkaulah yang mengerti tentang ini, katakn apalah yang harus kukerjakan”. Orang itu menjaawab, “engkau harus berjalan bolak balik sampai kedua kakimu merasa lelah; lalu berbaringlah dan racun itu akan menamatkan kerjanya.” Seketika itu diberikannya gelas itu kepada Socrates, yang menerimanya dengan tenang dan dengan air muka yang jernih. Sedikitpun, ia tidak gemetar, wajahnya tidak berubah. Sambil memandang orang itu, iaq berkata, “apa pendapatmu, dapatkah isi gelas ini ditumpahkan sedikit sebagai pujaan kepada seorang dewa? Bolehkah atau tidak?”orang itu menjawab, “kami hanya membuat sekedar cukup saja, ya, Socrates,” “Baiklah-kata Socrates-tetapi aku boleh dan harus meminta kepda dewa-dewa supaya perjalananku ke dunia yang lain selamat saja hendaknya. Semoga doaku ini dikabulkan”. Sesudah itu, sambil mengangkat gelas itu ke bibirnya, diminumnya isinya dengan gembira sampai habis.

Sampai sebegitu jauh, kebanyakan diantara kami masih dapat menahan hati yang sedih. Tatkala kami melihat ia minum sampai kosong isi gelas itu, kami tak dapat lagi menguasai diri kami. Air mataku jatuh bercucuran, sehingga kututup mukaku dan menangis tersedu-sedu; karena, bukan dia yang ku tangisi, melainkan aku memikirkan nasibku yang malang, yang kehilangan sahabat seperti dia. Aku bukan pertama yang menangis, karena Crito yang merasa tak sanggup lagi menahan air matanya bercucuran, sudah berdiri dan pergi lebih dahulu; dan aku mengikutinya di belakang. Ketika itu Apollodorus, yang selama itu menangis saja, mulai menjerit-jeriit dan menjadikan kami semuanya sebagai orang pengecut. Hanya Socrates yang tetap tenang. “Apakah itu semuanya?” katanya.” Aku sengaja menyuruh kaum wanita pergi dari sini supaya mereka jangan menyusahkan aku, sebab menurut cerita yang aku dengar, seseorang harus meninggal dengan tenang. Oleh sebab itu, diamlah dan sabarlah.”

Saat mendengar itu, kami merasa malu dan menahan air mata kami. Ia berjalan mondar mandir sampai, seperti katanya, kakinya sudah tidak berdaya lagi. Lalu, ia tidur menelantang seperti yang ditunjukkan kepadanya. Orang yang memberikan gelas berisi racun itu bertanya kepadanya sambil memegang kaki Socrates sebentar-sebentar; sesudah beberapa waktu, dicubitnya kaki Socrates keras-keras sambil menanyakan apakah terasa olehnya. Socrates menjawab “tidak”. Sesudah ituia merasakan seluruh kakinya, berangsur-angsur dari bawah ke atas dengan menunjukkan kepada kami bahwa kaki itu mulai dingin dan tegang. Kemudian, Socrates sendiri merasai kedua kakinya dan berkata, “Apabila racun itu sudah sampai ke jantung, sampailah ajalku.”

Tatkala bagian bawah tubuhnya sudah mulai dingin, diangkatnya sebentar kain yang menutupi mukanya dan berkata-inilah katanya yang penghabisan “Crito, aku berutang seekor ayam kepada Aesculaap, jangan lupa membayarnya kembali.” “utang itu akan dibayar”, kata Crito. “Adakah pesan yang lain?” tidak ada jawabannya. Tidak lama sesudah itu, kami dengar orang datang dan pelayan penjara mengangkatkan kain yang menutupi muka Socrates. Matanya terbuka dengan tiada bercahaya lagi dan Crito menutupkan mulutnya dan matanya. (Muhammad Hatta, 1986 : 78 – 79).

Berkaitan dengan metode berpikir Socrates, Muhammad Hatta (1986 :80 – 82) mengemukakan secara panjang lebar bahwa Socrates tidak pernah menuliskan filosofinya. Jika ditilik benar-benar, ia bahkan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia, filosofi bukan isi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran, ia tidak mengajarkannya. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir.

Karena Socrates tidak menuliskan filosofinya, sulit sekali mengetahui sahih semua ajarannya. Ajarannya itu dikenal dari catatan-catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Catatan Xenephon kurang kebenarannya, karena ia sendiri bukan seorang filosof. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada plato. Akan tetapi, kesukarannya ialah bahwa Plato dalam tulisannya banyak menuangkan pendapatnya sendiri kedalam mulut Socrates. Dalam urain-urainnya, yang kebanyakan berbentuk dialog, hampir selalu Socrates yang dikemukakannya. Ia berpikir, tetapi keluar seolah-olah Socrates Socrates yang berkata. Sesungguhya murid-muridnya, memberi isi sendiri-sendiri kepada ajaran gurunya, dalam satu hal, pendapat mereka sama, yaitu tentang metode Socrates. Tujuan filosofi Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Disini, berlainan pendapatnya dengan guru-guru sofis, yang mengajarkan bahwa semuanya relative dan subjektif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptic. Socrates berpendapat bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari.

Dalam mencari kebenaranitu, ia tidak berpikir sendiri, melainkan berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Orang yang kedua itu tidak dipandangnya sebagai lawan, melainkan sebagai kawan yang diajak bersama-sama mencari kebenaran. Kebenaran harus lahir dari jiwa kawan bercakap itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa orang. Oleh sebab itu, metodenya itu disebutnya maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai bidan.

Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap dari segala sesuatu. Oleh sebab itu, ia selalu bertanya, “Apa itu? Apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil?” pertanyaan tentang “Apa itu” harus lebih dahulu daripada “apa sebab”. Ini biasa bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Anak kecilpun mulai bertanya dengan “apa itu”. Jawaban tentang “apa itu” harus dicari dengan Tanya jawab yang semakin meningkat dan mendalam, maka Socrates diakui pula-sejak keterangan Aristoteles- sebagai pembangun dialektik pengetahuan. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis. Mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya, terletak pada seluruh filosofinya.

Karena Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan Tanya jawab, yang kemudian dibulatkan dengan pengertian, jalan yang ditempuhnya ialah metode induksi dan definisi. Keduanya bersangkut paut. Iinduksi menjadi dasar definisi.

Induksi dimaksud berlainan artinya dengan induksi sekarang. Menurut induksi, paham sekarang penyelidikan dimulai dengan memerhatikan yang satu-satunya dan dari situ-dengan mengumpulkan- dibentuk pengertian yang berlaku umum. Induksi yang menjadi metode Socrates ialah membandingkan secara kritis. Bukan kebenaran umum yang dicarinya, melainkan mencoba mencapai kebenaran dengan contoh dan persamaan, and mengujinya pula dengan saksi dan lawan saksi. Seperti disebut dari atas, dari lawannya dalam dialog, yang masing-massing terkenal sebagai pakar di bidangnya,ketika berdiallog tentang definisi “berani” “indah” dan sebagainya. Pengertian yang diperoleh itu diujikan kepada beberapa keadaan atau kejadian nyata. Apabila dalam pasangan itu, pengertian dimaksud tidak mencukupi, dari ujian dicari perbaikan definisi. Definisi yang tercapai dengan cara begitu diuji pula sekali lagi untuk mencapai perbaikan yang lebih sempurna. Demikian seterusnya. Plato, muridnya melanjutkan metode Socrates, mencari pengetahuan yang sebenar-benarnya dengan mendialogkan bersama lawan diskusinya. (Mohammad Hatta, 1986 : 78 – 79)

Begitulah cara Socrates mencapai pengertian. Melalui induksi sampai definisi. Definisi, yaitu pembentukan pengertian yang berlaku universal. Pengertian menurut paham Socrates sama dengan apa yang disebut Kant: prinsip regulative dan dasar menyusun. Dengan jalan begitu, hasil yang dicapai tidak lagi takluk kepada paham subjektif, seperti yang diajarkan kaum Sofis, melainkan umum sifatnya, berlaku untuk selama-lamanya.Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.

Dengan cara itu, Socrates membangun jiwa lawannya berdialog tentang keyakinan bahwa kebenaran tidak diperoleh begitu saja sebagai ayam panggang terlompat ke dalam mulut yang ternganga, melainkan dicari dengan perjuangan seperti memperoleh segala barang yang tertinggi nilainya. Dengan cara mencari kebenaran seperti itu, terlaksana pula tujuan yang lain, yaitu membentuk karakter. Oleh sebab itu, tepat sekali Socrates mengatakan bahwa budi ialah tahu. Maksudnya budi baik timbul dengan pengetahuan. Manusia yang dirusak oleh ajaran Sofisme hendak dibentuknya kembali.

Selain metodenya yang dipandang dapat menumbangkan filsafahnya kaum Sofis, Socrates pun memiliki falsafahnya tentang etika. Mohammad Hatta (1986 : 83-84) menjelaskan bahwa pandangan Socrates tentang etika bermula dari definisinya tentang budi. Menurut Socrates, budi adalah tahu. Inilah inti dari etikanya, orang yang berpengatahuan dengan sendirinya akan berbudi baik. Paham etikanya merupakan kelanjutan darimetodenya. Induksi dan definisi menuju pada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Dari mengetahui beserta keinsafan moriil, tidak boleh tidak, meski timbul budi.

Siapa yang mengetahui hukum mestiulah bertindak sesuai dengan pengetahuannya itu. Tak mungkin ada pertentangan antara keyakinan dan perbuatan. Karena berdasar atas pengetahuan, budi itu dapat dipelajari.

Dari ucapan itu, nyatalah bahwa ajaran etik Socrates dibangun secara rasional dan melukiskan daya intelektualitas yang tinggi. Jika makna budi adlah tahu, antara akal dan hati bersatu dan saling menopang. Oleh karena itu,tidak ada perbuatan yang tidak tidak disengaja, jika diawali dengan budi. Karena pekerjaan ddengan budi berarti pekerjaan dengan akal dan hatinya atau dengan pengetahuan. Apbila budi adalah tahu, berdasarkan timbangan yang benar, “jahat” hanya dating dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan dan penglihatan yang benar. Orang yang tersesat adalah korban dari kekhilafannya sendiri. Tersesat bukanlah perbuatan yang disengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas kemaunnya sendiri.

Karena budi adalah tahu, siapa yang tahu akn kebaikan dengan sendirinya terpaksa bebuatbaik. Untuk itu, perlulah orang pandai menguasai diri dalam segala keadaan. Dalam suka maupun duka. Apa yang pada hakikatnya baik, adlah juga baik bagi kita sendiri. Jadi, menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup.

Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Seperti halnya segala barang yang ada itu memiliki tujuannya, begitu juga hidup manusia. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifat dan kebaikn budinya.

Dari pandangan etik yang rasional itu, Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya, menserita kezaliman lebih baik daripada berbuat zalimdd. Sikap itu diperlihatkannya, dengan kata dan perbuatan, dalam pembelaanya dimuka bumi. Socrates adalh orang yang percaya kepada tuhan. Alam ini teratur susunannya menurut wujud yang tertentu. Itu, katanya, adalah tanda perbuatan tuhan. Kepada tuhan, dipercayakannya segala-galanyayang tak dapat diduga oleh otak manusia. Jiwa manusia itu dipandangnya bagian dari tuhan yang menyusun alam. Sering pula dikemukannya, bahwa tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam, yang menjadi bimbingan baginya dalam segla perbuatannya. Itulah yang disebutnya daimonion. Bukan dia saja yang begitu, katanya, semua orang dapat mendengarkan suara daimonion itu dari dalam jiwanya, apbila ia mau.

 

Socrates yang religious, pandangan kegamaannya dipengaruhi oleh paham rasionalisme. Semua itu menunjukkan kebulatan ajarannya, yang menjadikan ia seorang filosuf yang tak lekang oleh zaman. Socrates telah menumpahkan gagasannya tentang kebenaran, yang kemudian dikembangkan oleh murid-muridnya.

Di antara murid-murid Socrates, ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes, dan Aristippos. Sebenarnya mereka hanya mengemukakan sebagian atau sedikit dari ajaran Socrates. Itu pun diajarkan menurut paham mereka sendiri yang dicampur dengan pandangan filsafat lain yang sudah mereka pelajari lebih dahulu.

  1. Euklides mengajarkan filsafahnya di kota Megara. Sebelum belajar pada Socrates, ia telah mempelajri filsafat Elea, terutama ajaran Perminides yang mengatakan, bahwa “Yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah.” Pendapat ini disatukannya dengan etik Socrates. Lalu diajarkannya: yang satu itu baik. Hanya orang yang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai nama: Tuhan, akal dan lainnya. Lawan yang satu itu tiada. Yang baik selalu ada, tidak berubah.

    Cara Euklides mempertahankan pendapatnya banyak sekali menyerupai dalil-dalil yang dikemukakan oleh Zeno, dari filosofi Elea. Filosof Euklides ini tidak sama dengan Euklides ahli matematik, yang hisup kira-kira 100 tahun kemudian.

  2. Antisthenes mula-mula adalah murid guru sofi Gorgias. Kemudian, dia menjadi pengikut Socrates, sesudah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filsafat di Athena dan diberinya nama Gymnasium Kynosarges. Ole sebab itu, ajrannya sering disebut filsafat dari mazhab Kynia.]

    Menurut ajaran Antisthenes, budi adalah satu-satunya yang baik. Diluar itu tidak perlu kesenangan hidup. Mencari kesenangan sebagai tujuan adlah perbuatan yang salah. Budi adlah rasa segala cukup. Budi hanya satu dan dapat dipelajari. Siapa yang memilki budi itu, ia tidak akan kehilangan lagi; untuk memiliki budi itu orang tak perlu mempunyai kepintaran atau ilmu selain dari pandai menguasai diri cara Socrates.

    Dalam dua hal ia menyimpang dari Socrates. Pertama, ia memungut uang sekolah. Bagi Socrates pantang menerima bayaran. Memungut uang sekolah merupakan kebiasaan guru-guru Sofis. Kedua, tentang pengertian, pendapatnya berlainan dengan ajaran Socrates. Bagi Antisthenes, pengertian tak ada yang ada hanya kata-kata, masing-masing mempunyai arti tersendiri. Kata yang satu tak dapat menentukan kata yang lain, dalam hal ini, yang ada hanya sebutan identik, seperti “seorang orang adalah orang.”

    Di antara murid Antisthenes yang terkenal adalah Diogenes dari Sinope. Mereka terkenal karena hidupnya yang sangat sederhana. Corak hidup yang umum didapati pada masanya yang selal ditentangnya

  3. Aristippos mengajarkan filosofnya di Kyrena. Mula-mula, ia belajar pada guru-guru sofis kemudian murid Socrates. Dalam ajarannya, ia sangat jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi tujuan. Oleh sebab itu, ajarannya disebut Hedonisme. Hanya saja, kesenangan hidup itu harus dicapaiu dengan pertimbangan yang tepat, tidak boleh serampangan. Akal harus dipakai untuk menggunakan kesempatan yang ada.

    Sungguhpun Euklides, Antisthenes, dan Aristippos masing-masing mendirikan sekolah sebagai tanda cinta kepada gurunya, mereka bukanlah pengikut Socrates yang paling setia terhadap ajarannya. Murid Socrates yang mengadopsi filsafat Socrates paling mendalam adalah Plato. (Mohammad Hatta, 1986 : 84-86)

     

C.    Plato dan Idealismenya

Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal di sana pada tahun 347 SM dalam usia 80 tahun. Ia berasal dari keluarga aristokrasi yang turun-temurun memegang peranan penting dalam politik Athena. Sejak muda, ia bercita-cita ingin menjadi pejabat negara. Akan tetapi, perkembangan politik pada masanya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengikuti jalan hidup yang diinginkannya itu.

Nama asalnya ialah Aristokles, guru senamnya kemudian memberi nama Plato. Ia memperoleh nama itu karena bahunya yang lebar. Sepadan dengan badannya yang tinggi dan tegap. Raut mukanya, potongan tubuhnya, serta parasnya yang elok serasi dengan ciptaan klasik tentang manusia yang tampan. Tubuh Plato benar-benar ideal, bukan hanya tubuhnya,Plato pun tergolong seorang pemuda yang cerdas. Pandangan matanya menunjukkan seolah-olah ia mau mengisi dunia yang lahir ini dengan cita-citanya.

Pelajaran yang diperoleh pada masa kecilnya, selain dari pelajaran umum ialah menggambar dan melukis, disambung dengan belajar music dan puisi. Sebelum dewasa, ia sudah pandai membuat karangan yang bersajak. Sebagaimana hanya anak orang baik-baik pda masa itu, Plato mendapat didikan dari guru-guru filsafatnya. Pelajaran filsafat mula-mula diperolehnya dari Kratylos. Kratylos adalah murid Herakleitos yang mengajarkan “semuanya berlalu” seperti air. Rupanya ajaran semacam itu tidak hinggap di dalam kalbu anak aristocrat yang terpengaruh oleh tradisi keluarganya.

Sejak berumur 20 tahun, Plato mengikuti pelajaran Socrates. Pelajaran itulah yang memberi kepuasan baginya. Ia menjadi murid Socrates yang setia. Sampai akhir hidupnya, Socrates tetap menjadi pujaannya. Dalam karangannya yang selalu berbentuk dialog, bersoal-jawab, Socrates didudukkannya sebagai pujangga yang menuntun. Dengan cara begitu, ajaranPlato tergampar keluar melalui mulut Socrates. Juga setelah pandangan filosofinya sudah jauh menyimpang dan lebih lanjut dari pendapat gurunya, ia terus berbuat begitu. Socrates digambarkannya sebagai juru bahasa isi hati rakyat di Athena yang tertindas karena kekuasaan yang saling berganti, yang akhirnya membawa Athena lenyap ke bawah kekuasaan Asing.

Plato mempunyai kedudukan yang istimewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu, seni dan filsafat. Pandangan yang dalam dan abstak sekalipun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah. Tidak ada seorang filosof sebelumnya yang dapat menandinginya dalam hal ini. Juga sesudahnya. Gaya berfikir Socrates besar sekali pengaruhnya terhadap pandangan hidup Plato. Socrates di matanya adalah seorang yang sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya, orang yang tidak pernah berbuat salah. Hukuman yang ditimpakan itu dipandangnya suatu perbuatan zalim semaa-mata,yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bermoral dan tidak bertanggung jawab.

Tak lama sesudah Scratis meninggal, Plato pergi ke Athena. Itulah permulaan ia mengembara dua belas tahun lamanya, dari tahun 399 SM- 387 SM. Mula-mula ia pergi ke Megara, kemudian ia pergi ke Kyrena untuk memperdalam pengetahuannya tentang matematik pada seorang guru bernama Theodoras. Di sana, Plato juga mengajarkan filsafat dan mengarang buku-buku. Kemudian, ia pergi ke Italia Selatan dan terus ke Sirakusa di pulau Sisilia, yang pada waktu itu diperintah oleh seorang tiran, sang pemerkosa, yang bernama Dionysios. Di situ, Plato mengenal ipar raja Dionysios. Yang masih muda bernama Dion, yang akhirnya menjadi sahabat karibnya. Di antara mereka berdua sepakat, supaya Plato mempengaruhi Dionysios dengan ajaran filsafatnya, agar tercapai perbaikan social. Hal itu merupakan kesempatan yang baik bagi Plato untuk memperaktekkan ajaran filsafatnya ke dalam pemerintahan yang sesungguhnya. Ia berpendapat bahwa kesengsaraan dunia tidak akan berakhir, sebelum filosof menjadi raja atau raja-raja menjadi filosof. Akan tetapi, ajaran Plato dititikberatkan kepada pengertian moral dalam segala perbuatan.

Perjuangannya menghadapi tantangan yang berat, filsafatnya justru membosankan Dionysios. Yang lebih mengerikan, filsafat Plato di tuding sebagai ajaran yang membahayakan bagi kerajaan. Plato ditangkap dan dijual sebagai budak. Nasib baik bagi Plato, di pasar budak, ia dikenal oleh seorang bekas muridnya, Annikeris, dan ditebusnya. Peristiwa ini diketahui oleh sahabat dan pengikut-pengikut Plato dari Athena. Mereka bersama-sama mengumpulkan uang untuk mengganti harga penebus yang dibayar oleh Annikeris. Akan tetapi, dia menolak penggantian itu dengan kata-kata” Bukan tuan-tuan saja yang mempunyai hak untuk memelihara seorang Plato” Akhirnya, uang yang terkumpul dipergunakan untuk membeli sebidang tanah yang diserahkan kepada Plato untuk dijadikan lingkungan sekolah tempat ia mengajarkan filsafatnya. Di situlah didirikan rumah sekolah da pondok-pondok yang sekitarnya di hiasi kebun-kebun yang indah. Tepat itu diberi nama” Akademia”. Di situlah Plato,sejak berumur 40 tahun, pada tahun 387 SM sampai meninggalnya dalam usia 80 tahun, mengajarkan filsafatnya dan mengarang tulisan-tulisan yang terkenal sepanjang masa.

Sebagaimana Socrates, ia menggunakan metode dialog untuk mengantarkan filsafatnya. Namun, kebenaran umum(definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana cara yang digunakan Socrates. Pengertian umum (difinisi) menurut Plato sudah tersedia di sana di alam idea.

Menurut pemikiran falsafahnya, dunia lahir adalah dunia pengalaman yang selalu berubah-rubah dan berwarna-warni. Semua itu adalah bayangan dari dunia idea. Sebagai bayangan, hakekatnya adalah tiruan dari yang asli, yaitu idea. OLeh karena itu, dunia pengalaman ini berubah-rubah dan bermacam-macam, sebab hanyalah merupakan tiruan yang tidak sempurna dari idea yang sifatnya bagi dunia pengalaman. Barang-barang yang ada di dunia ini semua ada contohnya yang ideal di dunia idea.

Keadaan idea bertingkat-tingkat. Tingkat idea yang tertinggi adalah idea kebaikan, di bawahnya idea jiwa dunia, yang menggerakkan dunia. Berikutnya idea keindahan yang menimbulkan seni, ilmu, pendidikan, politik.

Dengan demikian, jelaslah bahwa kebenaran umum itu sudah ada, bukan dibuat melainkan sudah ada di dunia idea. Manusia dulu berada di dunia idea bersama-sama dengan idea-idea lainnya dan mengenalinya. Manusia di dunia nyata ini jiwanya terkurung oleh tubuh sehingga kurang ingat lagi hal-hal yang dulu pernah dikenalinya di dunia idea. Dengan kepekaan indranya, terkadang hal-hal yang empiris menjadikan ia teringat kembali apa yang pernah dikenalnya dulu di dunia idea. Dengan kata lain, pengertian manusia yang membentuk pengetahuan tidak lain adalah dari ingatan apa yang pernah dikenalinya atau mengerti karena ingat.

Sebagai konsep dari pandangannya tentang dunia idea, dalam masalah etika, ia berpendapat bahwa orang yang berpengetahuan dengan pengertian yang bermacam-macam sampai pengertian tentang ideanya, dengan sendirinya akan berbuat baik. Budi adalah tahu. Siapa yang tahu akan di dunia idea tidak akan berbuat jahat.

Hal yang penting juga untuk diketahui dari filsafat Plato adalah pemikiran dia tentang Negara. Menurutnya, dlam tiap-tiap negara, segala golongan dan semua orang adalah alat semata-mata untuk kesejahteraan semuanya. Kesejahteraan semua itulah yang menjadi tujuan yang sebenarnya. Itu pulalah yang menentukan nilai pembagian pekerjaan. Dalam Negara yang ideal, golongan pengusaha menghasilkan, tetapi tidak memerintah. Golongan penjaga memberi perlindungan, tetapi tidak memerintah. Golongan cerdik pandai diberi makan dan dilindungi, dan mereka memerintah.

Ketiga macam budi yang dimilki oleh masing-masing golongan, yaitu bijaksana, berani, dan menguasai diri dapat menyelenggarakan, dengan kerjasama budi keempat bagi masyarakat, yaitu keadian.

Oleh karena itu, Negara ideal bergantung pada budi penduduknya dan pendidikan menjadi urusan yang terpenting bagi Negara. Menurut Plato, pendidikan anak-anak dari umur 10 tahun ke atas menjadi urusan Negara, supaya mereka terlepas dari pengaruh orang tuanya. Dasar yang terutama bagi pendidikan anak-anak ialah gymnastic (senam) dan music. Namun, gymnastic didahulukan. Gymnastic menyehatkan badan dan pemikiran. Pendidikan harus menghasilkan manusia yng berani, yang diperlukan bagi calon penjaga. Setelah itu, diberikan pelajaran membaca, menulis, dan berhitung seberapa perlunya. Anak-anak berumur 14 sampai 16 tahun,diajarkan music dan puisi serta mengarang bersajak. Musik menanamkan perasaan yang halus dalam jiwa manusia. Karena music, jiwa kenal akan harmoni dan irama. Kedua-duanya adalah landasan yang baik untuk menghidupkan rasa keadilan. Akan tetapi, dalam pendidikan music harus dijauhkan lagu-lagu yang melemahkan jiwa serta yang mudah menimbulkan nafsu buruk. Begitu juga, tentang puisi. Puisi yang merusak moral disingkirkan. Pendidikan music gymnastic harus sama dan seimbang.

Dari umur 16 sampai 18 tahun, anak-anak yang menjelang dewasa diberi pelajaran matematik untuk mendidik jalan pikirannya. Di samping itu, diajarkan pula kepada mereka dasar-dasar agama dan adab sopan, supaya di kalangan mereka tertanam rasa persatuan. Plato mengatakan bahwa suatu bangsa tidak akan kuat, kalau ia tidak percaya kepada tuhan. Seni yang memurnikan jiwa dan perasaan tertuju kepada yang baik dan yang indah, diutamakan mengajarkannya. Pendidikan ini tidak saja menyempurnakan pandangan agama, tetapi juga mendidik dalam jiwa pemuda kesedihan berkorban dan keberanian menentang maut. Dari umur 18 sampai 20 tahun pemuda mendapat didikan militer.

Pada umur 20 tahun diadakan seleksi yang pertama. Murid-murid yang maju dalam ujian itu mendapat didikan ilmiah yang mendalam dalam bentuk yang lebih teratur. Pendidikan otak,jiwa, dan badan sama beratnya, sampai 10 tahun datanglah seleksi yang kedua yang syaratnya lebih berat dan teliti. Yang jatuh dapat di terima sebagai pegawai negeri. Yang maju dan sedikit jumlahnya meneruskan pelajaran 5 tahun lagi dan di didik ajaran tentang idea dan dialektika. Setelah tamat pelajaran itu, mereka dapat memangku jabatan yang lebih tinggi. Kalau sudah15 tahun bekerja dan mencapai umur 50 tahun, mereka di terima masuk dalam pengalaman mereka dalam teori dan praktek sudah di anggap cukup untuk melaksanakan tugas yng tertinggi dalam Negara:menegakkan keadilan berdasarkan idea kebaikan.

Menurutnya, penduduk Negara dapat di bagi tiga golongan, yaitu golongan teratas, tengah, dan terbawah. Golongan teratas ialah golongan yang memerintah, terdiri dari para filosof. Mereka bertugas membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya dan mereka memegang kekuasaan tertinggi. Golongan ini harus memiliki budi kebijaksanaan. Sebelum para filosof menjadi penguasa, negeri-negeri sulit untuk menghindar dari kejahatan-kejahatan. Golongan menengah adalah para pengawal dan abdi Negara. Tugas mereka dalah mempertahankan negara dari serangan musuh dan menegakkan berlakunya undang-undang supaya dipatuhi semua rakyat. Golongan ketiga adalah golongan terbawah atau rakyat pada umumnya. Mereka adalah kelompok yang produktif dan harus pandai membawa diri.

Tidak berbeda dengan Socrates, Plato mengajar murid-muridnya dengan metode diskusi atau dialog dan Tanya jawab. Sambil berjalan-jalan di kebun, ia menerangkan panjang lebar ajaran filsafatnya, hingga akhirnya terbentuk dinamika pemikiran di kalangan muridnya. Terkadang, Plato mengemukakan masalah kepada murid-muridnya untuk dipecahkan bersama-sama secara dialogis. Lantas, ia berjalan ke kelompok lain dengan mengemukakan pula sebuah soal yang harus mereka perbincangkan bersama-sama. Akhirnya, Plato kembali kepada kelompok yang pertama untuk mendengar jawaban mereka atas soal yang diajukan tadi. Demikianlah seterusnya dalam mengajarkan filsafatnya.Kelihatannya, Plato seorang guru yang menarik perhatian, bukan hanya filsafatnya yang merangsang otak para muridnya, cara mengajarnya pun menarik perhatian semua murid, karena ia terus mengelilingi murid-muridnya sambil tak henti menjelaskan pelajarannya secara mendalam.

Memberi uraian dan mengajar filsafat berdasarkan dialog, Tanya jawab, adalah kerja Plato yang utama di Akademia itu. Dalam berbagai kesempatan, seluruh corak berpikirnya dan gagasan filosofinya, ia bubuhkan dalam tulisan yang menjadi karyanya yang luar biasa. Mohammad hatta mengatakan bahwa metode belajar yang dilakukan oleh Plato termasuk metode pengajaran yang modern, karena semua murid diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya. Guru tidak bersifat otoriter atau menyuapi murid, sedangkan murid hanya mendengar tanpa pernah ada waktu untuk menanyakan soal-soal yang menurut mereka belum dapat dipahami. Bahkan, metode Tanya jawab, merupakan metode yang memandang bahwa semua yang ada di kelas adalah guru. Setiap murid memiliki potensi yang patut dikembangan dan setiap pemahaman atas masalah yang dikaji patut dihargai.

Mohammad Hatta mengatakan bahwa seorang filosof menulis tentang Plato sebagai berikut,”Plato pandai berbuat, ia dapat belajar seperti solon dan mengajar seperti Socrates. Ia pandai mendidik pemuda yang ingin belajar dan dapat memikat hati dan perhatian sahabat-sahabat pada dirinya. Murid-murid begitu sayang kepadanya seperti ia sayang kepada mereka. Dia itu bagi mereka adalah sahabat, guru, dan penuntun.”

Plato tidak pernah kawin dan tidak punya anak. Kemenakannya Speusippos menggantikannya mengurus Akademia.

Tulisan Plato hampir rata-rata berbentuk dialog. Jumlahnya tidak kurang dari 34 buah. Belum lagi tulisan-tulisannya yang berupa surat dan puisi.

Mohammad Hatta mengatakan bahwa ada dua pendapat yang terkemuka tentang cara memahamkan buah tangan Plato, diantaranya:

Scleiermacher mengatakan bahwa ketegasan Plato tidak dapat diketahui dari tulisannya saja. Bagian yang terbesar dari pendapat yang dikemukaknnya waktu mengajarkan filsafat. Ajaran yang dibentangkannya kepada pembaca sudah dipahaminya secara mendalam. Jadi, cara ia mengajarkan itu berdasar atas sutu rencana metodik. Mula-mula disiapkan pembacanya dengan pengetahuan elementer. Kemudian, diajaklah pembacanya memikirkan hal-hal itu seterusnya dengan jalan dealiktik, sampai akhirnya pikirannya matang tentang masalah itu.

Herman tidak begitu pendapatnya.Ia mengatakan bahwa dari tulisan-tulisan Plato dapat diikuti perkembangan pikirannya sendiri. Ia bermula dengan yang kecil dan maju sampai pada yang besar. Akan tetapi, betapa pun berbeda pendirian tentang menangkap buah pikiran Plato dan tentang menentukan urutan tulisan dialognya, segala yang ditulisnya itu dapat di tempatkan dalam empat masa dan tiap-tiap masa mempunya karakteristik sendiri.

Pertama, karangan-karangan yang ditulis dalam masa mudanya, yaitu waktu Socrates masih hidup sampai tak lama sesudah ia meninggal.

Kedua, buah tangan yang dditulisnya dalam “masa peralihan”. Masa itu disebut juga masa Megara, yaitu waktu Plato tinggal sementara di situ, dialog-dialog yang diduga ditulisnya dalam masa itu ialah Gorgias, Kratylos, Menon, Hippias, dan beberapa yang lainnya.

Persoalan yang diperbincangkan di situ kebanyakan mengenai pertentangan politik dan pandangan hidup, yang dikemukakan dengan kata-kata yang indah dan bersemangat.

Ketiga, buah tangan yang disiapkan pada masa matangnya. Tulisan yang terkenal dari waktu itu dan tersohor sepanjang masa ialah Phaidros, Symposion, Phaidon, dan oliteia Buku II-X. Ajaran tentang idea menjadi pokok pikiran Plato dan menjadi dasar bagi teori pengetahuan, metafisika, fisika, psikologi, etik, politik, dan estetika.

Keempat, buah tangan yang ditulis pada hari tuanya. Dialog-dialog yang dikarangnya di masa itu sering disebut Theaitetos, Parmenides, Sophistos, Politikos, Philibos, Timaios, Kritias, dan Nomoi. Akan tetapi, ada ahli-ahli yang menyangsikan keaslian beberapa dialog itu. Ada suatu perubahan yang nyata dalam uraiannya pada masa itu. Tapi, dalam pikirannya semua itu tersusun ke arah satu tujuan. Timaios boleh dikatakan suatu ajaran teologi tentang lahirnya dunia dan pemerintahan dunia.

Paham Plato tentang pembentukan dunia ini berdasar pada pendapat Empedokles bahwa alam ini tersusun dari empat anasir yang asal, yaitu api, udara, air, dan tanah. Akan tetapi, tentang proses pembangunan seterusnya berlainan pendapatnya. Menurut Plato, Tuhan sebagai pembangun alam menyusun anasir yang empat itu dalam berbagai bentuk menjadi satu kesatuan. Ke dalam bentuk yang satu itu, Tuhan memasukkan jiwa dunia yang akan menguasai dunia ini. Oleh karena itu, pembangunan dunia itu sekaligus menentukan sikap hidup manusia dalam dunia ini. Sepadan dengan itu, pendapat Plato tentang Nomoi (hukum). Di situ terdapat uraian yang panjang lebar tentang syarat-syarat hidup bernegara.

Hampir semua dialog yang dikarang Plato adalah campuran antara filsafat, puisi, ilmu, dan seni. Uraiannya yang berupa percakapan dengan Tanya jawab itu dibumbui pula dengan kata-kata sindiran, ironi, dan kiasan serta dongeng yang berisikan teladan. Fakta dan mitos kadang-kadang bercampur-baur dalam lukisan cerita dialogis. Oleh karn itu, orang tak mudah mengerti apa yang dimaksudkannya, sekalipun gaya bahasanya indah.

Intisari filsafat Plato adalah pendapatnya tentang idea. Mulanya, idea itu dikemukakannya sebagai teori logika. Kemudian, meluas menjadi pandangan hidup, menjadi dasar umum bagi ilmu dan politik social dan mencakup pandangan agama.

Dalam filosofi sebelum Socrates sering terdapat persoalan dan pertentangan tentang filsafat “Ada”. Bagaimana kedudukan “Ada” itu dianggap satu dan tetap terhadap segala yang ada yang banyak dan yang senantiasa berubah-rubah?Plato memfilosofinya lebih mendalam dengan mengemukakan pertanyaannya. “Apakah yang disebut dengan Ada” Apakah kita tidak perlu mempunyai pengertian yang tepat lebih dahulu tentang Adanya. Sebelum mempersoalkan dengan apa ia sama, mana dan berapa bagiannya? Socrates memulai filosofinya dengan mencari pengertian tentang itu: apa yang disebur berani, apa yang dikatakan dengan paham, apa itu kebaikan, apa itu keadilan? Jalan yang ditempuhnya untuk memperoleh pengertian itu ialah jalan induktif, bertanya kepada tiap-tiap orang yang diajaknya bersoal tentang itu. Pengertian yang umum tentang apa yang disebut berani, paham, keadilan, dan kebaikan hendak dicapai dari pendapat-pendapat orang yang banyak.

Plato memajukan lebih dahulu pengetahuan yang pokok dengan bertanya, apakah yang disebut adanya selama-lamanya,tak pernah menjadi, dan apakah yang disebut menjadi selama-lamanya, tetapi tak pernah ada? Yang pertama dipahami dengan kecerdasan berpikir, menyatakan yang tetap dan tinggal serupa selama-lamanya. Yang satu lagi dikatakan hasil dari pandangan yang teliti, melihat timbul dan hilang, tetapi sebenarnya tak pernah ada. Di sini, Plato memisahkan kenyataan yang kelihatan dalam alam yang lahir, sebagaimana dalam pandangan Heraklietos, dan alam pengertian yang abstrak sebagaimana pandangan Perminides. Dalam pandangan yang pertama yang ada hanya perkiraan. Sebab, kalau semuanya mengalir dengan tidak berhenti, tiap barang bagi tiap orang pada setiap waktu hanya berupa seperti yang terbayang di mukanya.

Pengertian yang dikemukakan oleh Socrates, diperdalam oleh Plato menjadi idea, Idea timbul semata-mata dari kecerdasan berpikir. Pengertian yang di cari dengan pikiran ialah idea. Idea pada hakekatnya sudah ada.

Pokok filosofi Plato ialah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya Socrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi. Pertentangan antara pikiran dan pandangan menjadi ukuran bagi Plato. Pengertian yang mengandung pengetahuan dan yang dicarinya bersama-sama dengan Socrates. Pengetahuan bukan dari pengalaman, karena pengalaman hanya alasan untuk menuju pengertian yang diperoleh atas usaha akal sendiri. Demikian pula dengan penglihatan, itu semua semata-mata jebakan atas keberadaan hakekat sesuatu.

Kalau kita melihat seekor kuda yang gagah atau seorang perempuan yang cantik, penglihatan itu hanya mengingatkan dalam kesadaran kitapengertian gagah yang sebenarnya yang tidak seluruhnya tergambar pada kuda yang gagah itu atau perempuan yang cantik. Pengertian gagah yang sebenarnya bukan kumpulan segala yang gagah yang kelihatan pada benda-benda. Terhadap segala yang dipandang itu ideal merupakan suatu idea, cita-cita. Bangunan yang tampak dengan pandangan itu tidak lain hanya gambaran yang tidak sempurna dari bangunan yang sebenarnya dalam pengertian. Ia serupa, tetapi tidak sama. Pengertian “gagah”berasal dari gambaran idea, sebenarnya gambaran itu tidak ada, yang ada hanyalah ideanya.

Pendapat ini diteruskan oleh Plato dalam filsafat bahasanya. Contoh: pembicaraan antara dua orang, apa yang sebab mereka saling mengerti? Bagaimana pendapat mereka tentang suatu pengertian bisa serupa atau berbeda? Kata tak lain hanyalah bunyi. Bagaimana kata itu bias mempunyai arti? Pendengaran bunyi kata itu tidak menentukan maksud kata yang terdengar itu. Kata-kata sebagai bunyi hanya merupakan symbol dari sesuatu yang terletak dibelakangnya.

Sekarang, bagaimana hubungan antara pikiran dan pengalaman? Untuk menggambarkannya, Plato melahirkan dua macam dunia, yaitu dunia yang kelihatan dan bertubuh dan dunia yang tidak kelihatan dan tak bertubuh. Dunia yang kelihatan dan bertubuh adalah dunia yang lahir, terdiri dari barang-barang yang dapat dilihat dan dialami, yang senantiasa berubah menurut ruang dan waktu. Dunia tidak kelihatan dan tidak bertubuh adalah dunia yang dari idea,tetap, dan tidak berubah-rubah.

Idea menurut pahamPlato tidak saja pengertian jenis, tetapi juga bentuk dari keadaan yang sebenarnya. Idea bukanlah suatu pikiran, melainkan suatu realita.Dunia bertubuh adalah dunia yang dapat diketahui dengan pandangan dan pengalaman. Dalam dunia itu semuanya bergerak dan senantiasa berubah, tidak ada yang tetap dan kekal.

Suatu contoh hubungan itu dapat dilihat dalam konsep matimatika. Matematika bekerja dengan segitiga, lingkaran, dan bulat, yang tidak terdapat dalam dunia yang lahir. Semua itu adalah gambaran dari idea yang hidup dalam dunia yang tidak kelihatan, dunia atas. Simbol dari realitas yang sebenarnya.

Contoh lain tampak pada pekerjaan membangun. Seorang pembuat barang-barang tembikar memadu tanah liat menjadi kendi. Tanah yang tidak berbentuk itu kemudian dibentuk sebuah kendi. Dari mana diperolehnya bentuk yang memberikan rupa kepada kendi itu? Bentuk itu tidak ada pada barang yang dikerjakannya. Bentuk itu datang dari luar.

Menurut Platto, sebanyak penertian, sebanyak itu pula jenis idea.Terhadap tiap pengertian yang bersangkutan dengan barang, sifat, hubungan, ada idea yang bertepatan. Akan tetapi, seluruh dunia idea itu merupakan satu kesatuan yang di dalamnya terdapat tingkatan derajat. Idea yang tertinggi ialah idea kebaikan, sebagai tuhan yang membentuk dunia.

Antara dunia yang bertubuh dan dunia yang tidak bersetubuh dibentangkannya suatu daerah perpisahan. Daerah itu ialah daerah lukisan matematik: angka-angka dan bangunan-bangunan ilmu ukur. Matematik adalah alat yng akurat dan tepat untuk menaikkan system penglihatan dan meningkat secara berangsur-angsur dengan urutan yang tepat.

Gagasa Plato tentang alat media telah membuka filsafat berikutnya tentang etika Plato. Etika Plato bersifat rasional dan mencerminkan intelektual yang tinggi. Dasar ajarannya ialah mencapai budi baik. Budi ialah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik.

Tujuan hidup ialah mencapai kesenangan hidup. Yang dimaksud dengan kesenangan hidup itu bukanlah memuaskan hawa nafsu di dunia ini. Kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang nilai kebendaan yang dituju.

Menurut Plato, ada dua macam Budi:

Pertama, budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian.

Kedua, budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orang banyak.

Tujuan budi filosofi terletak di dalam dunia yang tidak kelihatan. Tujuan budi biasa ialah barang-barang keperluan hidup di dunia ini.Oleh karena itu, tujuannya berlainan, daerah berlakunya berlainan juga.

Ada dua jalan yang dapat ditempuh untuk melaksanakan dasar etik.

Pertama, melarikan diri dalam pikiran dari dunia yang lahir dan hidup semata-mata dalam dunia idea.

Kedua, mengusahakan berlakunya idea itu dalam dunia yang lahir ini. Dengan perkataan lain; melaksanakan “hadirnya” idea dalam dunia ini. Tindakan pertama suatu perbuatan yang ideal. Tindakan yang kedua kelihatan lebih real.

Pandangan Plato tentang Negara dan luasnya masih terpaut pada masanya. Ia lebih memandang ke belakang daripada ke muka. Kota adalah sutu institusi yang menentukan. Karena kota itulah, orang-orang mendapat penghargaan. Dengan prinsip bahwa kepentingan umum harus didahulukan daripada kepentingan pribadi.

Peraturan yang mendasar untuk mengurus kepentingan umum menurut Plato- tidak boleh diputuskan oleh kemauan atau pendapat personal atau oleh rakyat seluruhnya, melainkan ditentukan oleh suatu ajaran yang berdasarkan pengetahuan dan pengertian. Dari ajaran itu, datanglah keyakinan bahwa pemerintahan harus dipimpin oleh idea yang tertinggi, yaitu idea kebaikan. Kemauan untuk melaksanakan itu bergantung pada budi. Tujuan pemerintah yang benar ialah mendidik warga-warga mempunyai budi. Manusia memperoleh budi yang benar hanya dari pengetahuan. Oleh karena itu, ilmu harus berkuasa di dalam Negara.

Negara menurut Plato adalah manusia dalam ukuran besar. Kita tidak dapat mengharapkan Negara menjadi baik, apabila kelakuan orang-orangnya tidak bertambah baik.

Keadilan dalam negarahanya tercapai, apabila tiap-tiap orang mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat. Keadilan bagi orang-seorang akan terjadi apabila segala bagian dari jiwanya, baik yang berkuasa maupun yang mengabdi, mengerjakan pekerjaannya sendiri-sendiri. Pembagian pekerjaan adalah dasar bagi Plato untuk mencapai perbaikan hidup. Atas dasar pembagian pekerjaan itu, Plato membagi penduduk Negara dalam tiga golongan.

Golongan bawah ialah golongan rakyat jelata, dari kalangan petani, pekerja, tukang, dan saudagar. Pekerjaan mereka sekedar untuk menghasilkan keperluan sehari-hari bagi ketiga golongan.

Golongan tengah ialah golongan penjaga atau “pembantu” dalam urusan Negara. Tugas mereka mempertahankan Negara dari serangan musuh dan menjamin supaya undang-undang dipatuhi rakyat.

Golongan atas ialah kelas pemerintah atau filosof. Mereka terpilih dari yang paling cakap dan terbaik dari kelas penjaga,setelah menempuh pendidikan dan latihan spesial untuk itu. Tugas mereka ialah membuat undang-undang dan mengawasi pelaksanaannya.

Ketiga macam budi yang dimiliki oleh masing-masing golongan, yaitu bijaksana, berani, dan menguasai diri dapat menyelenggarakan dengan kerjasama budi keempat bagi masyarakat, yaitu keadilan.Oleh karena itu, Negara ideal bergantung pada budi penduduknya.

Plato berpandangan bahwa kebanyakan tentang keadilan berpusat pada hakikat perilaku manusia, sedangkan manusia sangat bergantung dunia ideanya.Jika dalam ideanya tidak membangkitkan karakter perilaku yang mencerminkan semangat bekerja keras, tentu manusia itu akan lemah. Menurutnya, hukum adalah idea, sedangkan gambaran keadilan merupakan cita-cita dari realitas wujud idea. Oleh karena itu, seberapa besar manusia mengembangkan ideanya ke dalam gambaran pikirannya hingga akhirnya benar-benar nyata, meskipun kenyataan itu bukan yang sesungguhnya

Banyak pengarang yang menanamkan ciptaan Plato itu sebagai suatu system sosialisme. Akan tetapi, jika ditinjau benar-benar, Negara idealnya itu hanya merupakan Negara sosial yang tujuannya menghilangkan kemiskinan dan menegakkan keadilan.

D.
ARISTOTELES DAN IDEALISMENYA

Salah satu filosuf yang dianggap sangat berjasa dalam meletakkan sendi-sendi pertama rasionalitas Barat adalah Aristoteles, yang merupakan murid Plato. Meskipun diantara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan pandangan, tetapi Aristoteles dianggap sebagai murid yang mewarisi pemikiran-pemikiran gurunya, dan dianggap sebagai salah satu tokoh penggerak zaman.

Dia juga dianggap sebagai peletak tonggak dasar dalam sejarah pemikiran Barat. Bahkan Michael H. Hart menilai bahwa Aristoteles adalah seorang filosuf dan ilmuwan terbesar dalam dunia masa lampau. Dia memelopori penyelidikan ihwal logika, memperkaya hampir tiap cabang falsafah dan memberi sumbangsih tak terperikan besarnya terhadap ilmu pengetahuan. Meskipun banyak ide-ide Aristoteles yang tampaknya kini sudah ketinggalan zaman, tetapi yang paling penting dari apa yang pernah dilakukannya adalah pendekatan rasional yang senantiasa melandasi karyanya.

Dia filosof orisinal, dia penyumbang utama dalam tiap
bidang penting falsafah spekulatif, dia menulis tentang etika dan
metafisika, psikologi, ekonomi, teologi, politik, retorika,
keindahan, pendidikan, puisi, adat-istiadat orang terbelakang dan
konstitusi Athena. Salah satu proyek penyelidikannya adalah koleksi
pelbagai negeri yang digunakannya untuk studi bandingan.

Makalah ini berusaha mendeskripsikan pemikiran-pemikiran filsafat Aristoteles sebagai tokoh  yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern.

 
 

B. Riwayat Hidupnya

Dalam teks bahasa Inggris, nama Aristoteles ditulis Aristotle, dan dalam teks Arab biasanya ditulis Aristutulis atau Aristu. Sedangkan dalam tulisan asli Yunani biasanya ditulis ‘Aριστοτέλης. Dia lahir 384 SM di Stagira, sebuah kota koloni di semenanjung Chalcidice, yang berada di wilayah Macedonia, yang terletak di sebelah utara Yunani, atau yang kini menjadi  Yunani Utara.  Dia meninggal tahun 322 SM.

Ayahnya bernama Nichomachus, seorang sahabat dan dokter keluarga Amyntas II, raja Macedonia, ayah raja Philippos, dan kakek Alexandros yang kemudian dikenal dengan nama Alexander Agung. Meskipun telah lama tinggal di Macedonia, tetapi Nichpmachus  adalah orang asli Yunani. Berbeda dari Plato, yang merupakan keturunan bangsawan, Aristoteles berasal dari keluraga menengah.

Sejak kecil, Aristoteles diasuh dan dididik oleh ayahnya sendiri dalam bidang kedokteran. Ayahnya berharap jika besar nanti, Aristoteles dapat menggantikan ayahnya sebagai dokter keluarga raja Macedonia. Namun, harapan ayahnya tidak terwujud, karena sebelum Aristoteles berhasil menamatkan pelajarannya, ayahnya telah meninggal dunia. Meskipun begitu, sanga ayah telah berhasil mewariskan minat yang besar terhadap biologi kepada anaknya yang tampaknya terhadap karyanya di kemudian hari.

Mengenai kisah masa muda Aristoteles, sekurang-kurangnya terdapat dua versi yang saling berbeda satu dengan lainnya. Menurut para pengagumnya, ketika Aristoteles masih berusah sangat muda, yaitu tujuh tahun, ia berangkat ke Athena dan menjadi murid Plato. Menurut mereka, Aristoteles menjadi murid kesayangan Plato selam dua puluh tahun. Mereka yang mengagumi Aristoteles itu tidak pernah mengatakan bahwa dia sangat sembrono dan serampangan. Sedangkan menurut versi lain dikatakan bahwa sepeninggal ayahnya, Aristoteles yang masih muda itu hidup berfoya-foya dan menghambur-hamburkan harta warisan orang tuanya. Ketika harta orang tuanya telah habis dan lenyap, dia mendaftarkan diri sebagai tentara untuk menyambung hidupnya agar tidak mati kelaparan. Menurut versi ini, sesudah mendapat bekal dan modal yang cukup, Aristoteles kemudian kembali ke kota kelahirannya di Stageira dan salama beberapa tahun di sana ia dikenal sebagai seorang dokter muda yang mencoba mempraktikkan segala ilmunya yang ia peroleh dari ayahnya. Pada usia 30 tahun, ia meninggalkan Stageira dan berangkat menuju Athena, lalu mendaftarkan diri menjadi murid Plato. Jika versi ini benar, berarti Aristoteles hanya belajar di Akademia Plato selama delapan tahun, dan bukan 20 tahun. Namun, dalam beberapa rujukan cenderung mendukung pendapat pertama, bahwa Aristoteles belajar di Athena selama 20 tahun, dan bukan delapan tahun seperti pada pendapat kedua.

Selama belajar di Akademia Plato, Aristoteles mempelajari berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti Matematika, Politik, Etika dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Selain itu, ia mempunyai hobi mengumpulkan buku sehingga dalam waktu yang relatif singkat, rumahnya telah menjadi penuh buku, sehingga menyerupai perpustakaan. Tidak heran jika Si maha guru Plato, menyebut rumah Aritoteles sebagai “rumah si tukang baca”.

Aristoteles merupakan salah satu murid Plato yang sangat cepat dikenal karena dia tidak mau sekedar bernaung dibawah keagungan sang guru. Itu pula sebabnya dia dikenal sebagai murid “tukang kecam” dan senang mendebat sang guru yang banyak dihormati oleh banyak muridnya yang lain, kendati kecamannya sering kali tidak relevan, dan menunjukkan ketakfahamannya terhadap ajaran Plato. Namun, jika ditanya mengapa dia mengecam Plato, dia akan menjawab : “Amicus Plato, sed magis amica veritas” yang berarti “Plato kukasihi, tapi aku lebih mengasihi kebenaran.” Oleh karena itu, sebagian pakar berpendapat bahwa hubungan Aristoteles dan Plato sesungguhnya telah retak sejak jauh sebelum menjelang kematian Plato. Oleh sebab itu, Plato tidak menunjuk Aritoteles untuk menjadi penggantinya dalam memimpin Akademia, melainkan menunjuk Speusippos. Hal itu tentu sangat mengecewakan Aristoteles.

Plato meninggal pada 347 SM, dan pada tahun itu juga Aristoteles bersama dengan teman sekelasnya bernama Xenokrates meninggalkan Athena. Mereka berangkat menuju ke pantai Asia Kecil, pertama-tama tinggal di Atarneus, lalu pindah ke Assos kemudian tinggal di Mitylene. Penguasa Atarneus saat itu adalah Hermeias yang adalah alumnus Akademia Plato. Tentu kedatangan Aristoteles dan Xenakrates dismbut gembira oleh Hermeias, bahkan meminta mereka untuk membantu mengajar di sekolah yang telah didirikan oleh Erastos dan Koriskos, dua murid yang dikirim Plato dari Akademia atas permintaan Hermeias. Hubungan mereka sangat akrab, bahkan akhirnya Aristoteles menikah dengan Pythias, yang merupakan anak angkat dan kemenakan Hermeias sendiri. Sepasang insan itu hidup bahagia. Namun, setahun kemuadian yaitu tahun 343 SM negara yang dikuasai Hermeias ditaklukkan oleh tentara Persia dan Hermeias dibawa ke Persia dan dibunuh disana. Akhirnya Aristoteles dan keluarganya menyingkir ke daerah-daerah sekitar dan menetap beberapa waktu di Mitylere atas undangan Theophrastus, sahabatnya semenjak mereka belajar di Akademia Plato.

Di tahun 342 SM Aristoteles menerima undangan khusus dari Philippos, raja Macedonia, agar dia bersedia mendidik putra mahkotanya, Alexandros atau Alexander. Undangan itu dipenuhi. Dia mendidik Alexandros selama dua tahun, dan berhasil mendidik calon pemimpin yang terampil, meski sebelumnya Alexandros dikenal sebagai seorang remaja yang serampangan, mudah tersinggung, mudah marah, dan berbagai perangai buruk lainnya.  Alexndros juga terkesan dengan pendidikan yang diberikan oleh Aristoteles, sehingga meskipun telah  dilantik menjadi pejabata raja pada 340, Alexandros tetap menghoramti Aristoteles sebagaiman menghormati ayahnya sendiri.

Tahun 336 SM Philippos wafat dan digantikan oleh putra mahkota yang sudah dipersiapkan, yaitu Alexadros. Ia menaklukkan Persia dan berbagai tempat lainnya, yang di kemudian hari ternyata merupakan penaklukan dunia. Di saat Alexander berkuasa, Aristoteles kembali ke Athena. Ia kemudian mendirikan sekolah sendiri di Athena, yaitu di lapangan senam yang merupakan bagian dari halaman Kuil Dewa Apollo Lykeios (Dewa Pelindung terhadap serigala). Karena terletak di halam Kuil Lykeios, maka sekolah itu dinamakan Lykeion yang dalam bahasa Latin disebut Lyceum. Sekolah itu kemudian menjadi populer mengalahkan popularitas sekolah Isocrates yang selama ini telah berhasil mendidik para pemimpin Athena, dan berada di urutan kedua setelah Akademia Plato yang saat itu dipimpin oleh Xenakrates yang menggantikan Speusippos.

Aristoteles jatuh sakit dan meninggal dunia pada 322 SM, yang kemungkinan disebabkan oleh pekerjaannya yang tak mengenal batas. Saat meninggal dunia, ia berumum sekitar enam puluh tahun.

 Filsafat Aristoteles berkembang dalam tiga tahapan yang pertama ketika dia masih belajar di Akademi Plato ketika gagasannya masih dekat dengan gurunya tersebut, kemudian ketika dia mengungsi, dan terakhir pada waktu ia memimpin Lyceum mencakup enam karya tulisnya yang membahas masalah logika, yang dianggap sebagai karya-karyanya yang paling penting, selain kontribusinya di bidang Metafisika, Fisika, Etika, Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam dan karya seni.

Di bidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies-spesies biologi secara sistematis. Karyanya ini menggambarkan kecenderungannya akan analisa kritis, dan pencarian terhadap hukum alam dan keseimbangan pada alam

Berlawanan dengan Plato yang menyatakan teori tentang bentuk-bentuk ideal benda, Aristoteles menjelaskan bahwa materi tidak mungkin tanpa bentuk karena ia ada (eksis) Pemikiran lainnya adalah tentang gerak dimana dikatakan semua benda bergerak menuju satu tujuan, sebuah pendapat yang dikatakan bercorak teleologis. Karena benda tidak dapat bergerak dengan sendirinya maka harus ada penggerak dimana penggerak itu harus mempunyai penggerak lainnya hingga tiba pada penggerak pertama yang tak bergerak yang kemudian disebut dengan theos, yaitu yang dalam pengertian Bahasa Yunani sekarang dianggap berarti Tuhan.
Logika Aristoteles adalah suatu sistem berpikir deduktif (deductive reasoning), yang bahkan sampai saat ini masih dianggap sebagai dasar dari setiap pelajaran tentang logika formal. Meskipun demikian, dalam penelitian ilmiahnya ia menyadari pula pentingnya observasi, eksperimen dan berpikir induktif (inductive thinking).

Hal lain dalam kerangka berpikir yang menjadi sumbangan penting Aristoteles adalah silogisme yang dapat digunakan dalam menarik kesimpulan yang baru yang tepat dari dua kebenaran yang telah ada.
 Misalkan ada dua pernyataan (premis)
:

Setiap manusia pasti akan mati (premis mayor).

Sokrates adalah manusIa (premis minor)

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Sokrates pasti akan mati

Di bidang politik, Aristoteles percaya bahwa bentuk politik yang ideal adalah gabungan dari bentuk demokrasi dan monarki.

Karena luasnya lingkup karya-karya dari Aristoteles, maka dapatlah ia dianggap berkontribusi dengan skala ensiklopedis, dimana kontribusinya melingkupi bidang-bidang yang sangat beragam sekali seperti Fisika, Astronomi, Biologi, Psikologi, Metafisika (misalnya studi tentang prisip-prinsip awal mula dan ide-ide dasar tentang alam), logika formal, etika, politik, dan bahkan teori retorika dan puisi.

Di bidang seni, Aristoteles memuat pandangannya tentang keindahan dalam buku Poetike. Aristoteles sangat menekankan empirisme untuk menekankan pengetahuan.
 Ia mengatakan bahwa pengetahuan dibangun atas dasar pengamatan dan penglihatan.
 Menurut Aristoteles keindahan menyangkut keseimbangan ukuran yakni ukuran material. Menurut Aristoteles sebuah karya seni adalah sebuah perwujudan artistik yang merupakan hasil [[chatarsis]] disertai dengan estetika.
 Chatarsis adalah pengungkapan kumpulan perasaan yang dicurahkan ke luar.
 Kumpulan perasaan itu disertai dorongan normatif.
 Dorongan normatif yang dimaksud adalah dorongan yang akhirnya memberi wujud khusus pada perasaan tersebut.
Wujud itu ditiru dari apa yang ada di dalam kenyataan. aristoteles juga mendefinisikan pengertian sejarah yaitu Sejarah merupakan satu sistem yang meneliti suatu kejadian sejak awal dan tersusun dalam bentuk kronologi. Pada masa yang sama, menurut beliau juga Sejarah adalah peristiwa-peristiwa masa lalu yang mempunyai catatan, rekod-rekod atau bukti-bukti yang konkrit.

Meskipun sebagian besar ilmu pengetahuan yang dikembangkannya terasa lebih merupakan penjelasan dari hal-hal yang masuk akal (common-sense explanation), banyak teori-teorinya yang bertahan bahkan hampir selama dua ribu tahun lamanya.
Hal ini terjadi karena teori-teori tersebut karena dianggap masuk akal dan sesuai dengan pemikiran masyarakat pada umumnya, meskipun kemudian ternyata bahwa teori-teori tersebut salah total karena didasarkan pada asumsi-asumsi yang keliru.

Dapat dikatakan bahwa pemikiran Aristoteles sangat berpengaruh pada pemikiran Barat dan pemikiran keagamaan lain pada umumnya. Penyelarasan pemikiran Aristoteles dengan teologi Kristiani dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas di abad ke-13, dengan teologi Yahudi oleh Maimonides (1135 – 1204), dan dengan teologi Islam oleh Ibnu Rusyid (1126 – 1198). Bagi manusia abad pertengahan, Aristoteles tidak saja dianggap sebagai sumber yang otoritatif terhadap logika dan metafisika, melainkan juga dianggap sebagai sumber utama dari ilmu pengetahuan, atau “the master of those who know”, sebagaimana yang kemudian dikatakan oleh Dante Alighieri.

C. Karyanya

Menurut catatan sejarah, Plato dan Aristoteles adalah guru dan murid yang merupakan dua tokoh besar dalam sejarah, yang telah berhasil membentuk dan meletakkan dasar yang paling kokoh bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Barat modern. Di sisi lain, meskipun di sana sini terdapat perbedaan—bahkan pertentangan—antara kedua tokoh guru dan murid itu, tetapi keduanya pantas dinobatkan menjadi pahlawan dunia dalam bidang ilmu pengetahuan yang melepaskan dan membebaskan manusia dari belenggu ketaktahuan agara manusia tahu bahwa dia tahu jika mau tahu.

Justin D. Kaptain menulis tentang hal itu sebagai berikut.

To many, Plato represents the lyrical, soaring imagination, while Aristotle represents investigation, prosaic and eartbound. Plato seems inspired and inspiring, while Aristotle seems tied to inflexible system and unrelenting logic. One is a reformer, a prophet, and an artist, the other a comlier, an observer, and an organizer. Plato seems to represent the highest nobility of thought and aspiration; Aritotle seems content to accept and work within the day-to-day limitations of human behaviour 

(Bagi banyak orang, Plato menunjukkan seorang yang antusias, dengan imajinasi yang begitu membumbung tinggi, sementara Aristoteles melambangkan penelitian, menjemukan, dan terikat pada bumi. Plato tampak bersembangat dan sanggup membangkitkan semanat, sedangkan Aristoteles tampak terikat pada suatu sistem yang tidak luwes dan logika yang ruwet dan kaku. Yang satu adalah seorang pembaharu, nabi, dan artis, yang lain adalah seorang penyusun, pengamat, danorganisator. Plato tampak melukiskan kemuliaan tertinggi dari pikiran dan aspirasi; sementara Aristoteles kelihatan puas menerima dan bekerja dalam batasan-batasan hari-ke-hari dari perilaku manusia …)

Salah satu karya Aristoteles yang paling menonjol adalah penelitian ilmiah. Ia melakukan penelitian bidang zoologi, biologi, dan botani ketika ia mernatau ke sekitar pantai Asia Kecil dengan menggunakan segala fasilitas yang disediakan oleh Hermeias bersama dengan Theophrastus. Selain itu, Aristoteles juga melakukan penelitian khusus terhadap konstitusi dan sistem politik dari 158 negara kota (polis) di Yunani.Analisanya terhadap penelitiannya itu merupakan karya besar di bidang politik dan telah meletakkan dasar yang teguh bagi ilmu politik yang disebut Perbanding Pemerintahan dan Politik.

Para cendekiawan di zaman purba mengatakan bahwa karya tulis Aristoteles lebih dari 400 buku. Namun, sebagian besar telah musnah. Dari sekitar 50 buku yang masih ada, hanya sekitar separuhnya yang benar-benar merupakan hasil karya Aristoteles sendiri. Karya Plato begitu indah dan menarik, sementra karya Aristoteles kurang begitu indah dan kurang menarik.

Will Ross Durant membagi karya Aristoteles ke dalam tiga bidang utama yaitu :

1. Karya tulis yang bersifat populer.

2. Karya tulis yang berupa kumpulan data ilmiah.

3. Bahan kuliah.

Selain itu, ada yang membagi karya tulis Aristoteles menjadi lima kelopok yaitu :

1. Kelompok Organon yang terdiri atas :

a. Categoriae (kategori).

b. De Interpretatione ( tentang Penafsira).

c. Analytica Priora (Analitika yang pertama),

d. Analytica Posteriora (Analitika yang terakhir).

e. Topica (Topik).

f. De Sophisticis Elenchis (Cara berdebat kaum sufi).

  Kelompok  kedua terdiri atas :

a. Physica (Fisika) terdiri atas delapan buku.

b. Methapysica (Metafisika) terdiri atas 14 buku.

c. De Caelo (Dunia atas / langit) terdiri atas empat buku.

d. De Generatione er Corruptione (Penjadian dan Pembiasaan) terdiri atas dua buku.

e. Meteorologica (Meteorologi) terdiri atas empat buku.

3. Kelompok Biologi dan Psikologi, terdiri atas :

a. De Partibus Animalium (Bagian Binatang).

b. De Motu Animalium (Tentang Gerak Binatang)

c. De Generatione Animalium (Tentang Kejadian Binatang).

d. De Anima (Tentang jiwa).

e. Parva Naturalia ( Sedikit tentang tata hidup kodrati), yang merupakan kumpulan dari beberapa monografi tentang biopsikologi.

4.Kelmpok empat terdiri atas :

a. Ethica Nicomachea, terdiri atas sepuluh buku.

b. Ethica Eudemia, terdiri atas tujh buku.

c. Politica (Politik), delapan buku.

 
 

5. Kelompok lima terdiri atas :

a.Rhetorica (retorika)

b.Poetica (poetika).

 
 

D. Filsafat Logika

Mungkin sekali, yang paling penting dari sekian banyak hasil karyanya
adalah penyelidikannya tentang teori logika, dan Aristoteles
dipandang selaku pendiri cabang filosofi yang penting ini. Hal ini
sebetulnya berkat sifat logis dari cara berfikir Aristoteles yang
memungkinkannya mampu mempersembahkan begitu banyak bidang ilmu. Dia punya bakat mengatur cara berfikir, merumuskan kaidah dan jenis-
jenisnya yang kemudian jadi dasar berpikir di banyak bidang ilmu
pengetahuan. Aristoteles tak pernah kejeblos ke dalam rawa-rawa
mistik ataupun ekstrim. Aristoteles senantiasa bersiteguh
mengutarakan pendapat-pendapat praktis. Sudah barang tentu, manusia
namanya, dia juga berbuat kesalahan. Tetapi, sungguh menakjubkan
sekali betapa sedikitnya kesalahan yang dia bikin dalam ensiklopedi
yang begitu luas.

Dasar ajaran Aristoteles tentang logika berdasrkan atas ajaran tentang jalan pikiran (ratio-cinium) dan bukti. Jalan pikiran itu baginya berupa syllogismus (silogisme), yaitu putusan dua yang tersusun sedmikian rupa sehingga melahirkan putusan yang ketiga. Untuk dapat menggunakan syllogismus dengan benar, seseorang harus tahu bena sifat putusan itu.

Silogisme Aristoteles, sebuah perjalanan logika deduktif yang amat panjang sejak 2500 tahun yang silam, sejak Aristoteles dilahirkan  di Stagira 384 SM. Namun, logika ini akan tetap aktual dalam perjalanan manusia mencari makna diri di alam semesta ini, bahkan sesungguhnya silogisme Aristoteleslah yang mendasari prinsip-prinsip Antropik Kosmos (Cosmic Anthropic Principles). Konsep silogisme Aristoteles adalah konsep dasar tatkala kesadaran manusia harus menapak awal melihat fenomena alam semesta dan mulai menganalisa keajaiban kehidupan bumi, kemudian manusia menyadari bahwa dirinya sendiri akan menjadi tiada seperti spesies makhluk hidup lainnya, mortal.

 Silogisme Aristoteles lebih mudah difahami dari persamaan matematika berikut :

jika A = B dan B = C maka A = C 

 
 

A

B

C

       
 

 
 

Jika dikaitkan dengan silogisme Aristoteles diatas, maka inilah pertanyaan-pertanyaan abadi tentang kesadaran manusia  :

ika kita harus berkata bahwa kesadaran manusia itu lahir dari kegelapan goa goa awal peradaban manusia, maka adalah logis jika suatu hari kelak kita akan lahir kembali dalam kondisi yang sama, kegelapan di goa awal peradaban. Dalam bentuk silogisme Aristoteles A = B = C. 

100.000 tahun lalu, dimana kesadaran semesta itu berada? Apakah masih berevolusi dalam diri dalam spesies Homo Erectus?

10.000 tahun lalu, peradaban manusia lantas muncul dan sampai saat ini, apakah yang sebenarnya terjadi pada 200 milyar sel syaraf spesies manusia? Angka 10,000 tahun adalah tidak sebanding dengan 3 juta tahun atau 4.5 milyar tahun yang silam untuk menyatakan bahwa kesadaran manusia itu baru memulai evolusi. Angka 10,000 tahun lebih tepat kita lihat sebagai fenomena revolusi kesadaran semesta dari munculnya kesadaran manusia.

Sederhananya bandingkan 200 milyar sel syaraf manusia itu dengan sebuah transformator listrik. Jika input transformator adalah fungsi tegangan/arus/frekwensi  listrik A maka outputnya adalah fungsi tegangan/arus/frekwensi B. Sedangkan input dari 200 milyar sel-syaraf kita adalah suatu ‘Dimensi Kesadaran Semesta’ yang memang kekal eksistensinya melihat ‘Masa Depan Semesta’ sebagai ouputnya. Fungsi kesadaran manusia adalah untuk melihat Masa Depan Semesta sambil ‘bermain-main’ di Bumi ini, tetapi bukan untuk mengeksekusi Semesta Kosmos sejauh 13.7 milyar tahun cahaya.  

Kita bertemu di bumi berbangsa-bangsa berbeda bahasa adalah untuk memahami bahwa Bumi tinggal Satu untuk kelak menghadap Sang Pencipta. Pada akhirnya manusia akan faham bahwa Logika Hari Kiamat adalah realitas indahnya Keabadian Kesadaran Semesta, betapapun perbedaan kita dalam bermimpi tentang makna keabadian. 

 

Fungsi Kesadaran Semesta >>

200 milyar sel-syaraf manusia

>> Fungsi Masa Depan Semesta

   
 

Fungsi (V,I,f,A)  >>

transformator listrik

>> Fungsi (V,I,f,B)

  
 

Tatkala kesadaran manusia harus muncul dan tumbuh, maka mulailah kita mencari asal muasal kesadaran itu muncul. Kesadaran kita akan selalu mengarah kepada penyederhanan dan penyederhanaan dari kompleksitas observasi seorang manusia seperti Aristoteles. Solusinya adalah membuat sistematika yang logis dengan cara membuat klasifikasi, inilah cara berfikir logis sang jenius Aristoteles tanpa mikroskop dan tanpa teleskop disampingnya. Kita membayangkan pribadi pribadi  pengamat kosmos seperti Plato, Socrates, atau Aristoteles yang harus berfikir tentang alam semesta tanpa penemuan dasar seperti mikroskop, teleskop, atau mesin cetak Gutenberg, maka hasilnya berupa istilah klasifikasi orisinal mereka  seperti  analytica, dialectica, physica, matematica , scientifica, etica, politica, medica adalah penemuan luar biasa. Lucunya saat kini kita seolah kembali ke cara berfikir ala Aristoteles dimana pada saat ini fitrah manusia millennium mengalami ‘kebuntuan kosmologi’ dalam menyimpulkan angka 13,700,000,000 tahun cahaya. Lantas apa maknanya silogisme Aristoteles 2500 tahun silam dan prinsip antropika millennium dalam memandang kosmos. Jangan jangan Aristoteles-lah yang benar bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dan paling tidak kesadaran manusia di bumi adalah satu satunya kesadaran yang pernah ditemukan di alam semesta, jadi barangkali bumi-lah pusat kesadaran kosmos semesta. Karena Sang Pengamat Kosmos cuma Satu adanya di Bumi, Sang Manusia.  Quo Vadis Aristoteles.

Oleh karena itu, logika dapat dimengerti sebagai kerangka atau peralatan teknis yang diperlukan manusia agar penalarannya berjalan dengan tepat. Dasar logika Aristoteles adalah uraian keputusan yang kita temukan dalam bahasa (“the analysis of judgement as found and expressed in human language”). Dalam bahasa moderen, logika Aristoteles dapat dikatakan menggabungkan unsur empiris-induktif dan rasional-deduktif.

 
 

E. Filsafat Pengetahuan

Filsafat tentang logika diatas menjadi dasar filsafat pengetahuan. Selain berjasa dalam membangun logika, Aristoteles juga berjasa dalam usahanya untuk menggambarkan tahbapan-tahapan kemajuan pengetahuan manusia. Menurutnya, pengetahuan dimulai dengan tahapan inderawi yang selalu partikular. Tahapan pengetahuan selanjutnya adalah abstraksi menuju pengetahuan akal budi yangbercirikan universal.

Dalam hal ini, filsafat pengetahuan Aristoteles merupakan kebalikan dari filsafat pengetahuan Plato. Dasar filsafat pegetahuan Aristoteles bukanlah intuisi, tetapi abstraksi. Oleh karena itu, benar bila dikatakan bahwa Aristoteles tidak selalu sepaham dengan gurunya sendiri, Plato, bahkan mungkin bertentangan.

 
 

 

 
 

F. Filsafat Metafisika

Menurut Aristoteles, Nous atau akal budi merupakan bagian yang paling mulia dalam diri manusia. Oleh karena itu, dalam ajaran Aristoteles, unsur-unsur filsafat ke-Tuhanan bertitik pangkal dariuraian kemampuan akal budi manusia itu. Dalam hal ini Aristoteles mencari dasar uraiannya dalam pengamatan inderawi di dunia yang berubah-ubah. Dia mengamati gerak, dan sampai kepada kesimpulan bahwa ada penggerak. Ia kemudian juga menyimpulkan bahwa ada “yang menggerakkan tanpa digerakkan sendiri”.

Jalan pikiran Aristoteles itu diterapkan oleh Thomas Aquinas dalam “panca marga” (quinque viae) guna menyatakan adanya Tuhan berdasarkan pengalaman dan penalaran filosofis.

 
 

G. Pengaruh Pemikirannya

Pengaruh Aristoteles terhadap cara berpikir Barat di belakang hari
sungguh mendalam. Di zaman dulu dan zaman pertengahan, hasil karyanya
diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Latin, Arab, Itali, Perancis,
Ibrani, Jerman dan Inggris. Penulis-penulis Yunani yang muncul
kemudian, begitu pula filosof-filosof Byzantium mempelajari karyanya
dan menaruh kekaguman yang sangat. Perlu juga dicatat, buah
pikirannya banyak membawa pengaruh pada filosof Islam dan berabad-
abad lamanya tulisan-tulisannya mendominir cara berpikir Barat. Ibnu
Rusyd (Averroes), mungkin filosof Arab yang paling terkemuka, mencoba
merumuskan suatu perpaduan antara Teologi Islam dengan
rasionalisme Aristoteles. Maimomides, pemikir paling terkemuka
Yahudi abad tengah berhasil mencapai sintesa dengan Yudaisme. Tetapi,
hasil kerja paling gemilang dari perbuatan macam itu adalah Summa
Theologia-nya cendikiawan Nasrani St. Thomas Aquinas. Di luar daftar
ini masih sangat banyak kaum cerdik pandai abad tengah yang
terpengaruh demikian dalamnya oleh pikiran Aristoteles.

Kekaguman orang kepada Aristoteles menjadi begitu melonjak di akhir
abad tengah tatkala keadaan sudah mengarah pada penyembahan berhala.
Dalam keadaan itu tulisan-tulisan Aristoteles lebih merupakan semacam
bungkus intelek yang jitu tempat mempertanyakan problem lebih lanjut
daripada semacam lampu penerang jalan. Aristoteles yang gemar
meneliti dan memikirkan ihwal dirinya tak salah lagi kurang sepakat
dengan sanjungan membabi buta dari generasi berikutnya terhadap
tulisan-tulisannya.

Beberapa ide Aristoteles kelihatan reaksioner diukur dengan kacamata
sekarang. Misalnya, dia mendukung perbudakan karena dianggapnya
sejalan dengan garis hukum alam. Dia percaya kerendahan martabat
wanita ketimbang laki-laki. Kedua ide ini–tentu saja-–mencerminkan
pandangan yang berlaku pada zaman itu. Tetapi, tak kurang pula
banyaknya buah pikiran Aristoteles yang mencengangkan modernnya,
misalnya kalimatnya, “Kemiskinan adalah bapaknya revolusi dan
kejahatan,” dan kalimat “Barangsiapa yang sudah merenungi dalam-dalam
seni memerintah manusia pasti yakin bahwa nasib sesuatu emperium
tergantung pada pendidikan anak-anak mudanya.” (Tentu saja, waktu itu
belum ada sekolah seperti yang kita kenal sekarang).

Di abad-abad belakangan, pengaruh dan reputasi Aristoteles telah
merosot bukan alang kepalang. Namun, ada yang berpikir bahwa pengaruhnya sudah begitu menyerap dan berlangsung begitu lama sehingga saya menyesal tidak bisa menempatkannya lebih tinggi dari tingkat urutan seperti sekarang ini. Tingkat urutannya sekarang ini terutama akibat amat
pentingnya ketiga belas orang yang mendahuluinya dalam urutan.

 
 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

Sofis adalah nama yang diberikan kepada sekelompok filosuf yang hidup dan berkarya pada zaman yang sama dengan Socrates. Mereka muncul pada pertengahan hingga akhir abad ke-5 SM. Meskipun sezaman, kaum sofis dipandang sebagai penutup era filsafat pra-sokratik sebab Sokrates akan membawa perubahan besar di dalam filsafat Yunani. Golongan sofis bukanlah suatu mazhab tersendiri, sebab para filsuf yang digolongkan sebagai sofis tidak memiliki ajaran bersama ataupun organisasi tertentu. Karena itu, sofisme dipandang sebagai suatu gerakan dalam bidang intelektual di Yunani saat itu yang disebabkan oleh beberapa faktor yang timbul saat itu. Gorgias, salah seorang filsuf sofis pertama

Kaum Sofis muncul pada pertengahan abad ke-5 SM. Beberapa orang filsuf sofis yang terkenal tidak berasal dari Athena, namun semua nya pernah mengunjungi dan berkarya di Athena

Di dalam sejarah filsafat, dikenal beberapa nama filosuf yang termasuk di dalam kaum sofis. Nama-nama tersebut adalah Protagoras dari Abdera, Xeniades dari Korintus, Gorgias dari Leontinoi, Lycophron, Prodikos dari Keos, Thrasymakos dari Chalcedon, Hippias dari Elis, dan Antiphon and Kritias dari Athena

Selanjutnya ahli filsafat pada masa Yunani kuno sangat banyak jumlahnya diantaranya yang pertama adalah Socrates, Socrates lahir di Athena pada tahun 470 SM dan meninggal pada tahun 399 SM dengan cara yang mengenaskan ya’ni dengan meminum racun sebagai hukuman atas pembangkangannya terhadap Negara yang pada saat itu menganut aliran Sofisme. Bapaknya adalah tukang pembuat patung, sedangkan ibunya seorang bidan. Pada permulaannya, Socrates mau menuruti jejak bapaknya menjadi tukang pembuat tukang patung pula, tetapi ia berganti haluan. Dari membentuk batu jadi patung, ia membentuk watak manusia.

Socrates terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur, dan adil. Cara penyampaian pemikirannya kepada para pemuda menngunakan metode Tanya jawab

Adapun filsafah pemikiran Socrates, diantaranya adalah pernyataan adanya kebenaran objektif, yaitu yang tidak bergantung kepada aku dan kita, dalam membenarkan kebenaran yang objektif, ia menggunakan metode tertentu yang terkenal dengan metode dialektika. Dialektika berasal dari kata Yunani yang berarti bercakap-cakap atau dialog.

Ahli filsafat yang ke-dua pada zaman yunani kuno adalah Plato,Plato dilahirkan di Athena pada tahun 427 SM dan meninggal di sana pada tahun 347 SM dalam usia 80 tahun. Nama asalnya ialah Aristokles. Plato mempunyai kedudukan yang istemewa sebagai seorang filosof. Ia pandai menyatukan puisi dan ilmu, seni dan filsafat, pandangan yang abstrak sekalipun dapat dilukiskannya dengan gaya bahasa yang indah.

Semua karya yang ditulis Plato berbentuk dialog. Dengan bentuk dialog ini, Plato mengekspresikan pikiran-pikirannya.

Idea menurut Plato, merupakan inti dasar dari filsafat yang diajarkan oleh Plato. Idea merupakan suatu yang objektif.

Menurut Plato,ada dua macam budi:

Pertama, budi filosofi yang timbul dari pengetahuan dengan pengertian

Kedua, budi biasa yang terbawa oleh kebiasaan orng banyak.

Etika Plato bersifat intelektual dan rasional. Dasar ajarannya adalah mencapai budi baik

Plato membagi penduduk Negara dalam tiga golongan.

Pertama, golongan bawah ialah golongan rakyat jelata.

Kedua, golongan tengah ialah golongan penjaga atau pembantu dalam urusan Negara.

Ketiga, golongan atas ialah kelas pemerintah atau filosof.

Ahli filsafat yang ke-tiga pada zaman yunani kuno adalah Aristoteles, Aristoteles mempunyai dasar-dasar ajaran tentang filsafat yang kemudian banyak berkembang di Barat. Meskipun demikian, ada juga cendekiawan muslim yang terpengaruh oleh pemikiran filsafatnya.

Dalam filsafatnya, Aristoteles bertitik tolak dari apa yang dia amati dalam hidup manusia dan hidup masyarakat. Dari praksis nyata dan data-data, dia kemudian menyimpulkan menjadi suatu theoria yang meliputi segala data pengamatan itu.

Karya Aristoteles yang cukup banyak mencakup berbagai cabang ilmu pengetahuan. Selain mengajarkan tentang filsafat logika, filsafat pengetahuan, dan filsafat metafisika, Aristoteles juga mengajarkan filsafat etika, filsafat negara, filsafat manusia dan sebagainya. Hal ini menunjukkan bahwa Aristoteles merupakan tokoh yang  luas ilmu pengetahuannya dan merupakan ilmuwan yang pantas mendapatkan acungan jempol.

Wallahu a’lam bi al-shawab

B. Saran

Sesuai dengan uraian di atas maka banyak dapat kita ambil pelajaran, sewajarnyalah kita sebagai manusia yang berilmu mengikuti jejak langkah para filosuf yang membuka dan mengembangkan ilmunya di tengah-tengah pemerintah yang sangat otoriter. Dengan rasa dan keinginan tinggi tanpa ada rasa takut mereka menyampaikan pendapatnya di muka umum walaupun nyawa taruhannya, tetapi dengan penyampain mereka maka terlahirlah para pemikir-pemikir yang mengikuti jejak langkah mereka.

Oleh sebab itu, walaupun mereka bukan dari agama kita islam, kita harus menghormati mereka karena dengan pemikiran mereka kita bisa mengenal apa itu Ilmu Filsafat?

Semoga bisa bermanfaat bagi kami khususnya kelompok III mahasiswa STAI Darussalam dan seluruh teman-teman yang mengikuti mata kuliah “FILSAFAT UMUM” semester I tahun 2010/2011.

Assalamu’alaikum Warohmatulloh Wabarokatuh

DAFTAR PUSTAKA

Achmadi, Drs. Asmoro. 1995. Fisafat Umum, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Syadali, Drs. H. Ahmad dan Drs. Mudzakkir.1990. Filsafat umum, Bandung : Pustaka Setia


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: