Filsafat Modern

BAB I

PENDAHULUAN

 

Sejarah memang tak ada habisnya bila dibicarakan apalagi sejarah tentang ilmu pengetahuan yang tiap waktu selalu berubah-ubah bahkan tiap kurun waktu ilmu pengetahuan saling bertentangan satu dengan yang lainnya, tetapi hal ini salah satu cirri bagaimana akal manusia tiap kurun waktu makin cerdas dengan ilmu pengetahuan yang ada, dalam kajian makalah ini terpapar filsafah modern yang berkembang pada abad pertengahan yang disana terjadi banyak aliran dalam filsafah itu.

Sebut saja Renaissance, Rasionalisme, Empirisme, dan banyak lagi yang lainnya, dalam perkembangannya banyak filsafah yang bertentangan dengan dasar suatu Negara pada saat itu dan akhirnya pencetus filsafah itu bisa saja dihukum dengan hukuman yang tidak sewajarnya, tetapi waktu terus berputar tiap waktu bukan filsafah mereka dilupakan, ditinggalkan, bahkan sampai saat sekarang pemikiran filsafah mereka bisa dipakai untuk kemajuan ilmu pengetahuan sekarang.

Dengan keterbatasan ilmu pengetahuan kami kami hanya memaparkan sedikit tentang perkembangan filsafah modern pada abad pertengahan ini, semoga bisa kita manfaatkan dalam perkuliahan “Filsafat Umum”. Sebagai tujuan dari pembuatan makalah ini dan juga sebagai acuan kita supaya dapat teladan bagaimana para filosuf-filosuf yang giat mengembangkan pemahamannya disistem pemerintahan yang otoriter pada saat itu

Adapun rumusan permasalahn dalam makalah ini adalah sebagai berikut; Berbagai aliran-aliran yang ada pada zaman filsafah modern pada saat itu yakni pada abad pertengahan, dan para penganut-penganut aliran filsafah pada zaman itu.

 

BAB II

PEMBAHASAN

FILSAFAT MODERN

 

  1. Renaissance

Istilah Renaissance berasal dari bahasa Prancis yang berarti kebangkitan kembali. Oleh sejarawan istilah itu tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Orang yang mula-mula menggunakan istilah tersebut adalah sejarawan Prancis bernama Jules Michelet. Menurutnya Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia dan bukan sekedar sebagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. Bila dikaitkan dengan keadaan Renaissance masa antara zaman pertengahan dengan zaman modern yang dapat dipandang sebagai masa peralihan, yang ditandai oleh terjadinya sejumlah kekacauan dalam bidang pemikiran. Disatu pihak terdapat astrologi, kepercayaan yang bersangkutan dengan dunia hitam, perang-perang agama, dan sebagainya di lain pihak muncullah ilmu pengetahuan alam modern serta mulai berpengaruhnya suatu perasaan hidup baru, dan pada saat itu, muncullah usaha-usaha penelitian empiris yang lebih giat, yang pada akhirnya memunculkan sains bentuk baru.

Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh suatu usaha besar Descartes (1596 -1650) untuk memberikan kepada filasafat suatu bangunan yang baru. Memang di dalam bidang filsafat zaman Renaissance kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan dengan bidang seni dan sains. Namun di antara perkembangan itu terjadi pula perkembangan dalam filsafat. Descartes sering disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern.

Sejak itu, dan juga telah dimulai sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaissance, sebenarnya Individualisme dan Humanisme telah dicanangkan. Descartes memperkuat idea-idea ini. Humanisme dan individualisme merupakan cirri Renaissance yang penting. Humanisme ialah pandangan bahwa manusia mampu mengatur dunia dan dirinya. Oleh karena itu sering juga disebut zaman Humanisme, maksudnya manusia diangkat dari abad pertengahan.

Pada abad pertengahan itu manusia dianggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran dari Gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat oleh manusia. Humanisme menghendaki ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan berpikir, maka Humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya sendiri dan mengatur dunia.

Jadi, cirri utama renaissance humanime, individualism, lepas dari agama (tidak mau diatur agama), Emprisme dan Rasionalisme. Hasil yang diperoleh dari watak itu ialah pengetahuuan rasional yang berkembang. Filsafat berkembang bukan pada zaman itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (zaman modern). Sains berkembang karena semangat dan hasil Empirisme itu. Agama Kristen semakin ditinggalkan, ini karena semangat Humanisme itu. Ini kelihatan dengan jelas kelak pada zaman modern. Rupanya setiap gerakan pemikiran mempunyai kecenderungan menghasilkan yang positif, tetapi sekaligus yang negative. Apa tidak mungkin gerakan pemikiran itu hanya menimbulkan yang positif saja??? Contohnya gerakan nabi Muhammad yang mengajarkan Islam.

Jadi, zaman modern filsafat didahului ole zaman Renaissance, sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat tidak berbeda dari zaman modern. Cirri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern cirri itu antara lain adalah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Renaissance, Individualisme, Humanisme, lepas dari pengaruh agama lain-lain. Sekalipun demikian para ahli senang menyebut Descartes sebagai tokoh Rasionalisme.

Descartes mengetahui bahwa tiddak mudah untuk meyakinkan tokoh-tokoh gereja bahwa filsafah haruslah rasio (akal). Karena waktu itu mereka telah yakin bahwa dasar filsafah haruslah iman. Untuk menuntun pemikiran mereka Descartes menyusun metode yang berisi argument-argumen, metode Descartes itu terkenal dengan sebutan Cogito Descartes.

B. Rasionalisme

Rene Descartes di samping tokoh Rasionalisme juga dianggap sebagai bapak aliran filsafat modern. Ia tidak puas dengan filsafat Scholastik karena dilihatnya sebagian saling bertentangan, dan tidak ada kepastian. Adapun sebabnya karena tidak ada metode berpikir yang pasti. Descartes mengemukakan metode-metode baru yaitu metode keragu-raguan, itu jelas ada yang sedang berpikir. Sebab yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas terang benderang. Cogito Ergo Sum saya berpikir, maka jelaslah bahwa saya ada.

Adapun sumber kebenaran ialah rasio. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran; yang benar hanyalah tindakan akal yang terang-benderang yang disebutnya Ideas Claires Ci Distinctes (pikiran yang terang benderang dan terpilah pilah). Idea terang-benderang ini pemberian tuhan sebellum orang dilahirkan (idea innatae = ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar.

Karena rasio saja yang diangggap sebagai sumber kebenaran, maka aliran ini disebut Rasionalisme. Adapun pengetahuan indera sering dianggap menyesatkan. Latar belakang munculnya Rasionalisme adalah keinginan untuk membebaskan diri dari segala pemikiran tradisional (skolastik).

Penganut aliran Rasionalisme diantaranya: Blaise Pascal (1623 – 1662 M), Nicole-Malehranche (1678 – 1718 M), Spinoza (1631 – 1677 M), dan Leibniz (1646 – 1716).

Sebagaimana disebutkan bahwa Descartes adalah tokoh pertama dalam filsafat modern. Ia sebagai orang aliran Rasionalis. Rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting untuk memperoleh pengetahuan. Menurut aliran rasionalis, suatu pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir.

Aliran Rasionalisme ada dua macam yaitu bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama aliran Rasionalisme adalah lawan dari autoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik ajaran agama. Sedangkan dalam bidang filsafat Rasionalisme dalah lawan dari Empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan. Hanya saja Empirisme mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh dengan jalan mengetahui objek empirisme, maka Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir, pengetahuan dari Empirisme dianggap sering menyesatkan. Adapun alat berpikir adalah kaidah-kaidah yang logis.

Zaman modern dalam sejarah filsafat biasanya dimulai oleh filsafat Descartes, tentu saja ini bermaksud menyederhanakan permasalahan. Kata modern di sini hanya digunakan untuk menunjukkan suatu filsafat yang mempunyai corak yang amat berbeda, bahkan berlawanan, dengan corak filsafat pada abad pertengahan Kristen. Corak utama filsafat modern yang dimaksud di sini ialah dianutnya kembali Rasionalisme seperti pada masa Yunani kuno. Gagasan itu disertai oleh argument yang kuat diajukan oleh sang Descartes. Oleh karena itu, gerakan pemikiran Descartes sering juga disebut bercorak Renaissance. Ap lahir kembali itu??? Ya, Rasionalisme Yunani yang harus diamati di sini ialah apakah konsikuensi Rasionalisme pada masa Yunani akan terulang kembali.

Descartes dianggap sebagai bapak filsafat modern. Menurut Betrand Russel, anggapan itu memang benar. Kata Bapak diberikan kepada Descartes Karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang pertama di akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya.

Menurut catatan, Descartes adalah orang inggris. Ayahnya anggota parlemen Inggris. Pada tahun 1612 M Descartes pergi ke Francis. Ia taat mengerjakan ibadah menurut ajaran agama Khatolik, tetapi ia juga menganut Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh Gereja. Dari tahun 1629 M sampai tahun 1649 M menetap di Belanda.

Pengaruh keimanan yang begitu kuat pada abad pertengahan yang tergambar dalam ungkapan credo ut intelligam itu, telah membuat para pemikir takut mengemukakan pemikiiran yang berbeda dari pendapat tokoh Gereja. Apakah ada filosuf yang mampu dan berani menyelamatkan filsafat yang dicengkeram oleh iman abad pertengahan itu??? Tokoh itu ialah Descartes.

Menurutnya kepastian itu tidak tergantung dari objek yang dipelajari karena hal yang dialami bisa berubah sewaktu-waktu. Begitulah terjadi bahwa metode Descartes mengembangkan aturan universal dari pikiran manusia dan tidak mewahyukan corak dari dunia yang dipelajari. Bagi Descartes hal itu dianggap mungkin karena roh kita mempunyai idea innata, ide yang sudah ada waktu kita lahir, berdasar idea innata dan aturan dari pikiran yang logis kita mencapai pengetahuan yan pasti. Aturan yang logis itu ialah: jangan menerima hal yang tidak eviden, uraikanlah persoalan menjadi unsure-unsur persoalan, susunlah pikiran mulai dengan yang sederhana naik sampai yang lebih sukar dan menjadi yakin bahwa ada aturan dan corak juga kalau corak itu tidak dilihat. Kesatuan dan Universitas ilmu pengetahuan ialah kesatuan dan universitas dari roh manusia. Formalisme dari logika abstrak tidak berguna bagi ilmu. Ilmu pengetahuan berdasar intuisi dari subjek pengetahuan yang banyak mengaku benar hal yang menampakkan diriinya dalam ide yang nyata dan jelas les idecs claires et distinct. Jelas artinya sifat objek yang terang menampakkan dirinya, idea distinct ialah ide yang diuraikan sampai unsur terakhir.

Descartes mencari suatu dasar bagi metode itu. Bagaimana saya bias tahu bahwa hal yang menampakkan dirinya dengan jelas pada mata rohani ialah hal yang betel-betel terdapat didunia luar, bagaimana saya tahu bahwa itu bukan impian???

Untuk menjajaki sesuatu yang dianggap benar itu, Descartes mengandalkan metode keraguan. Metode keraguan itu bukanlah tujuannya. Tujuan metode ini bukanlah untuk mempertahankan keraguan. Sebaliknya, metode ini bergerak dari keraguan menjadi kepastian. Keraguan Descartes hanya ditujukan untuk menjelaskan perbedaan sesuatu yang dapat diragukan dari sesuatu yang tidak dapat diragukan. Ia sendiri tidak pernah meragukan bahwa ia mampu menemukan keyakinan yang berada dibalik keraguan itu, dan menggunakan unutk membuktikan suatu kepastian di balik sesuatu.

C. Penganut Aliran Rasionalisme

1. Spinoza (1632 – 1677 M)

Spinoza dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1677 M. nama aslinya Baruch Spinoza. Setelah ia mengucilkan diri dari agama Yahudi, ia mengubah namanya menjadi Benedictus de Spinoza. Ia hidup di pinggiran kota Amsterdam. Baik Spinoza maupun Leibniz ternyata mengikuti pemikiran Descartes itu. Dua tokoh terakhir ini juga menjadikan substansi sebagai tema pokok dalam metafisika dan mereka berdua juga mengikuti metode Descartes. Tiga filosuf Descartes, Spinoza, Leibniz, biasanya ddi kelompokkan ke dalam satu mazhab, yaitu Rasionalisme.

Secara selintas permasalahan metafisika modern tetap sama dengan masalah metafisika pada masa pro-Socrates, yaitu berupa substansi yang ada? Apa itu? Apa beda yang satu dari yang lain? Bagaimana setiap substansi (atau sesuatu) itu berinteraksi? Bagaimana substansi itu muncul? Apakah alam semesta mempunyai permulaan?

Persoalan-persoalan ini memang persoalan lama. Thales bahkan sudah mempersoalkan sebagian dari pertanyaan itu. Akan tetapi, bila dipikir-pikir, memang masih adakah pertanyaan metafisika selain itu?

Spinoza mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sebenarnya dapat diduga, ia pasti menggunakan cara yang sekurang-kurangnya sama rumitnya dengan cara yang digunakan oleh Descartes. Orang yang memang diikutinya. Dugaan kita memang benar. Ia menggunakan deduksi matematis ala Descartes. Ia mulai dengan meletakkan definisi-definisi, aksioma-aksioma, proposisi-proposisi, kemudian barulah membuat pembuktian (penyimpulan) berdasarkan definisi, aksioma, atau proposisi itu. Cukup rumit juga.

2. Leibniz (1646 – 1716 M)

Gottfried Eilhelm von Leibniz lahir pada tahun 1646 M dan meninggal pada tahun 1716 M. ia filosuf Jerman, matematikawan, fisikawan, dan sejarawan. Lama menjadi pegawai pemerintah, menjadi atase, pembantu pejabat tinggi Negara. Pusat metafisikanya adalah idea tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep monad.

Metafisika Leibniz sama memusatkan perhatian pada substansi. Bagi Spinoza, alam semesta ini mekanistis dan keseluruhannya bergantung pada sebab, sementara pada Leibniz ialah prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan tuhan juga harus mempunyai alsan unutk setiap yang diciptakan-Nya. Kita lihat bahwa ada atau substansi. Leibniz berpendapat bahwa substansi itu banyak. Ia menyebut substansi-substansi itu monad.

D. Empirisme

Bertentangan dengan Rasionalisme yang berpendirian bahwa sumber pengenalan/pengetahuan adalah rasio, sehingga pengenalan kabur saja, aliran Empirisme berpendapat bahwa pengetahuan bersumber dari pengalaman, sehingga pengenalan inderawi merupakan pengenalan yang paling jelas dan sempurna.

Francus Bacon (1210 -1292 M) berpendapat: pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati. Pengetahuan haruslah dicapai dengan induksi. Kata Bacon selanjutnya: kita sudah terlalu lama dipengaruhi oleh motode deduktif. Dari dogma-dogma diambil kesimpulan, itu tidak benar. Haruslah kita sekarang memperhatikan yang konkret, mengelompokkan, itulah tugas ilmu pengetahuan.

Thomas Hobbes (1588 – 1679 M) berpendapat: pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanyaq sesuatu yang dapat disentuh dengan indera lah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi belaka.

John Loke (1932-1704 M) dalam penelitiannya ia memakai istilah sensation dan reflection. Sensation adalah suatu yang dapat berhubungan dengan dunia luar, tetapi manusia tidak mengerti dan meraihnya. Sementara itu reflection adalah pengenalan intuitif yang memberikan pengetahuan kepada manusia, yang sifatnya lebih baik daripada sensation.

Pengikut aliran Empirisme yang lain diantaranya: David Hume (1711- 1776 M), Gerge Berkeley (1665 – 1753 M).

E. Kritisisme

Aliran ini muncul pada abad ke-18. Suatu zaman baru di mana ahli piker yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara Rasionalisme dengan Emoirisme. Zaman baru ini disebut zaman pencerahan (Aufklarung)

Pendirian aliran Rasionalisme dan Empirisme sangat bertolak belakang. Rasionalisme berpendirian bahwa rasiolah sumber pengenalan atau pengetahuan, sedang Empirisme sebaliknya berpendirian bahwa pengalamanlah yang menjadi sumber tersebut.

Imanuel Kant (1724 -1804 M) berusaha mengadakan penyelesaian atas pertikaian itu dengan filsafat yang dinamakan kritisisme (aliran yang kritis). Jadi metode berpikirnya disebut metode kritis. Walaupun ia mendasarkan diri pada nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal. Sehingga akal mengenal batas-batasnya. Karena itu aspek irrasionalitas dari kehidupan dapat diterima kenyataannya. Untuk itulah ia menulis dua bukunya yang berjudul: Kritik der Reinen Vernunft (kritik atas rasio murni), Kritik der Urteilskraft (kritik atas daya pertimbangan).

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Jadi filsafat modern antara lain yaitu : Renaissance/ Humanisme, Rasionalisme, Empirisme dan Kritisisme.

Ciri-ciri filsafat modern antara lain ingin menghidupkan kembali Rasionalisme keilmuan subyektivisme (individualisme), Humanisme dan lepas dari pengaruh atau dominasi agama.

 

DAFTAR PUSTAKA

Syadali, Drs. H. Ahmad dan Drs. Mudzakkir.1990. Filsafat umum, Bandung : Pustaka Setia

Achmadi, Drs. Asmoro. 1995. Fisafat Umum, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Hakim, M. Atang Abdul. 1995. Filsafat umum, Jakarta : Pustaka


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: