Madrasah VS Sekolah Umum

Madrasah Vs Sekolah Umum, apa pendapat anda?

Apakah Sekolah Umum lebih berkelas daripada Madrasah? Atau malah sebaliknya?

Itu pendapat masing-masing individu, akan tetapi banyak yang mempunyai paradigma bahwa orang yang sekolah di Sekolah Umum lebih mantaf pendidikannya daripada Madrasah.

Ya sudah gak usah diperdebatkan masalah yang demikian….yang penting anak kita mendapat ilmu yang bisa mereka amalkan di kehidupannya kelak…yakni ilmu yang manfaat.

Seterusnya pada faktanya, sampai hari ini madrasah dianggap rendah. Padahal, madrasah merupakan salah satu sekolah yang mengedapankan ilmu-ilmu Islam. Yang ironisnya, Negara kita, secara nominal yang terdata di Kartu Tanda Penduduk (KTP),  penduduk Indonesia adalah pemeluk Islam terbanyak didunia. Namun sekolah yangberbasiskan Islam justru terpinggirkan, tidak menjadi prioritas apalagi menjadi rebutan.

UU no.23 tahun 2006 tentang sisdiknas memang telah melagalisasi eksistensi madrasah di Indonesia. Namun adanya dikotomi pemerintah, dengan membagi dua kementrian yang berbeda, yakni adanya kementrian Depdiknas dan Kementrian Agama. Hal tersebut secara perlahan telah membuat garis pemisah antara madrasah dengan sekolah umum. Jika memang tujuan pendidikannya sama, mengapa harus ada dua kementrian yang berbeda? Untuk memaksimalkan fungsi madrasah atau untuk menghancurkan secara perlahan?. Disatu sisi, siswa di madrasah diharuskan bahkan wajib untuk mempelajari pelajaran-pelajaran umum. Sehingga mata pelajaran yang ada di madrasah jauh lebih banyak ketimbang disekolah umum. Tentu saja hal tersebut menjadi beban tersendiri bagi siswa yang bersekolah di madrasah. Mereka harus menguasai pelajaran dibidang Agama, juga dibidang umum, dengan limit waktu belajar yang sama dengan sekolah umum. Disisi lain Sekolah umum dibawah kementrian Depdiknas, mencantumkan pelajaran-pelajaran umum dan sedikit sekali porsi untuk pelajarn agama. Bukankah tujuan pendidikan nasional ialah untuk membentuk generasi bangsa yang  berkarakter? Berkarakter berarti berakhlak, dan itu hanya akan dapat dicapai jika tidak hanya intelegence quitioent (IQ) yang dikedepankan, tapi sangat perlu seimbang dengan spiritual Quitioent (SQ). SQ akan didapat jika pelajaran agama menjadi prioritas dalam pendidikan. Sistem pendidikan Indonesia, memang mengedepankan cognititive-oriented, tidak seperti Jepang yang memprioritaskan values-oriented. Sehingga hasilnya, Indonesia memiliki banyak SDM cerdas yang tidak berakhlak. Tidak heran, jika korupsi menjadi budaya yang menjamur.

Lihatlah para koruptor di negeri ini, apakah mereka alumni dari madrasah??? Perlu dipertanyakan hal tersebut. Terus kemana para alumni Madrasah? Kalau diperhitungkan dunia pendidikan Indonesia lebih mengedepankan pendidikan Umum… apakah ada di televisi program cerdas cermat untuk pelajaran Fiqih? Akidah Akhlak? Qur’an Hadits? Sejarah Kebudayaan Islam? (jawab sendiri saja)

Dengan kehidupan carut marutnya akhlak Indonesia, mulai pejabat, instansi pemerintah, anggota dewan yang terhormat, mencontohkan perilaku yang menyimpang (ya gak semuanya…tapi sebagian kecil ajha).

Islam ialah agama yang universal, tidak akan pernah kuno walaupun zaman semakin modern. Karena Islam bukan produk budaya dan bukan hasil pemikiran Nabi Muhammad, tapi Islam ialah firman Allah, sang pencipta segalanya. Jadi, terkait dengan sistem pendidikan Islam, para tokoh Islam telah jauh-jauh hari mencurahkan gagasan-gagasannya dalam konsep pendidikan islam. Seperti ibnu sina, ibnu jama’ah, al-qabisi, ibnu miskawaih, al ghazali dan masih banyak lagi yg lainnya. Ibnu sina dengan gagasannya tentang pendidikan sesuai usia dan kemampuan siswa dan spesialisasi atau penjurusan dalam pendidikan di sekolah. Ibnu jama’ah, memberikan kriteria sikap dan akhlak guru dan murid yang seharusnya, serta yang lainnya. Semua konsep-konsep tersebut pada akhirnya justru bukan dipelajari dan dimanfaatkan umat islam, tapi konsep tersebut telah diaplikasikan didunia pendidikan barat dan dinegara-negara sekuler. Sehingga bisa terlihat hasilnya, Negara mereka maju. Hal itu membuktikan bahwa konsep pendidikan Islam tidaklah kuno tetapi universal. Hanya akan ada perubahan inovatif dan tidak akan pernah menghilangkan konten essential dari Islam.

Oleh karena itu, Madrasah dan sekolah umum, sudah seharusnya menggunakan konsep pendidikan islam. Agar Negara ini dapat memunculkan generasi yang berkarakter/berakhlak. Karena logika sederhananya, anak yang berakhlak tidak disuruh belajarpun pasti ia akan belajar, tidak dilarang nyontek pun ia tidak akan nyontek. Karena telah tertanam nilai-nilai moral dalam dirinya yang dapat mengendalikan sikap dan perilaku dirinya menjadi lebih baik. Madrasah vs sekolah umum, atau kemendiknas vs kemenag.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: